Putin Ngaku Sudah Tahu Bom Nuklir Korut sejak 2001


2017-10-04 21:52:30 Internasional 122 kali

Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto : istimewa)

Moskow, Kabar28.com,  – Sebuah pengakuan mengejutkan dilontarkan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pria berusia 64 tahun itu mengaku sudah diberi tahu secara pribadi akan keberadaan bom nuklir di Korea Utara (Korut). Orang yang memberi tahu bukan orang sembarangan, melainkan mendiang Pemimpin Tertinggi Kim Jong-il.

“Pada 2001, ketika saya sedang dalam perjalanan untuk berkunjung ke Jepang, saya mampir ke Korea Utara, di mana saya bertemu dengan ayah dari pemimpin yang sekarang. Saat itu dia (Jong-il) memberi tahu mereka memiliki bom nuklir. Bahkan, Seoul sudah berada dalam jarak tembak dari sistem artileri standar mereka saat itu,” urai Vladimir Putin, Rabu (4/10/2017).

“Kapan itu? Tahun 2001! Sekarang 2017 dan mereka hidup di bawah sanksi permanen. Alih-alih bom nuklir, mereka saat ini memiliki bom hidrogen,” sambung pria berjuluk Grey Cardinal itu.

Putin mengatakan, dirinya tidak memiliki hak untuk menilai kebijakan Amerika Serikat (AS) di bawah Pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Korea Utara (Korut). Tetapi, pria asal Saint Petersburg itu mengimbau agar semua pihak mengurangi retorika menjurus perang yang mengitari kawasan Semenanjung Korea.

Ia juga ditanyai mengenai apakah Rusia khawatir dengan uji coba nuklir Korea Utara. Putin menjawab negaranya berbatasan langsung dengan Korea Utara. Situs uji coba nuklir Pyongyang bahkan berada 200 kilometer (km) dari perbatasan tersebut. Karena itu, Rusia sangat khawatir.

“Kita berbatasan langsung dengan Korea Utara. Sebuah lokasi uji nuklir di Korea berjarak 200 kilometer (km) dari perbatasan kita. Di mana AS terletak, di mana Rusia dan Korea Utara? Kami bukannya tidak cemas, bahkan mungkin lebih cemas dari Anda,” tandas Vladimir Putin.

Mengakhiri sesi tanya jawab terkait Korea Utara, Putin menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki hubungan ekonomi dan perdagangan secara langsung dengan Korea Utara. Moskow memang menyuplai sekira 40 ribu ton minyak ke sana, tetapi hanya perusahaan-perusahaan kecil. Karena itu, tidak ada kerjasama antara kedua negara dalam level yang lebih tinggi yaitu pemerintah ke pemerintah.

Sumber : okezone.com

 

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close