Dilalui Jalur Kereta Batubara, Pemkab OKI Ingatkan Dampak Lingkungan


Arie Perdana Putra 2019-07-10 08:44:34 Ogan Komering Ilir 22 kali

Rakor pembangunan jalur khusus batubara

KAYU AGUNG, Kabar28.com,- Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA) berencana meningkatkan kapasitas angkut batubara dari 25 juta ton per tahun menjadi 35 juta ton per tahun dengan membangun jalur khusus batubara melalui moda kereta api. 

Jalur kereta sepanjang 38,35 km tersebut akan melintasi Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin dan Palembang.

Khusus wilayah OKI panjang rel yang melintas sepanjang 3,6 Km dengan lebar 50 M. Rel tersebut berada di Desa Pedu dan Desa Simpang Kecamatan Jejawi. Mulai dari STA 11 sampai STA 15, rel singel track tersebut rencananya akan dilintasi oleh gerbong pengangkut batubara dengan volume berkisar 3.000 ton per hari. 

Pembangunan jalur khusus batubara ini diperuntukan untuk mewujudkan Sumsel sebagai lumbung energi dengan menambah produksi hingga 60 juta ton pada 2022 mendatang dari semula hanya sekitar  25 juta ton per tahun. 

“Tentunya, harus ada penambahan daya angkut agar dapat didistribusikan," kata Pimpinan proyek Pengembangan angkutan Batubara, Gedri pada rapat koordinasi pembangunan jalur khusus batubara di Pemkab OKI, kemarin.

Gedri mengatakan, jalur kereta api ini cukup krusial di dalam penambahan produksi perusahaan. Pasalnya, kereta api merupakan satu-satunya angkutan yang bisa mengangkut batubara dari lokasi tambang ke pelabuhan.

"Produksi ini harus in line dengan kemampuan kereta api. Distribusi harus diperkuat, apalagi kebutuhan batu bara untuk proyek 35 ribu Megawatt (MW) juga diperkirakan cukup besar," ujarnya.

Adapun proyek jalur kereta api khusus batubara ini ditarget selama tiga tahun, yaitu persiapan lahan dan perizinan pada 2019, tahap kontruksi di Januari 2020 hingga 2022. Sedangkan Januari 2023 jalur kereta sudah produksi.

Sekretaris Daerah OKI, H. Husin menyambut baik rencana pengembangan jalur angkutan khusus batubara yang melintasi wilayah OKI. Pemkab OKI menurut dia akan memberikan dukungan terhadap proyek untuk kepentingan nasional ini.

“Untuk kepentingan nasional, kami pemerintah daerah siap memfasilitasi baik dari segi administrasi maupun teknis jika sudah ada pelimpahan dari Gubernur," ungkapnya.

Sekda Husin menceritakan Kabupaten OKI banyak dilintasi proyek strategis nasional, salah satunya jalan tol trans Sumatera. Koordinasi dan komunikasi antara pelaksana proyek dengan Pemkab maupun masyarakat menurut Husin sangat penting untuk keberlanjutan pembangunan.

“Koordinasi dan komunikasi penting dijalin untuk menanggulangi setiap permasalahan yang akan muncul sebagai dampak dari pembangunan," tukasnya.

Kepada PTBA Sekda juga mengingatkan dampak lingkungan dari pembangun proyek angkutan batubara mengingat jalur kereta api batubara akan melintasi persawahan, perkebunan rakyat juga sempadan sungai.

“Harus benar-benar diperhatikan dampak lingkungan dari proyek ini baik amdalnya maupun dampak sosial yang akan muncul ketika pelaksanaan," ujarnya.

Hal sama juga diingatkan Kadis PU Tata Ruang Kabupaten OKI, Hafidz,  karena jalur kereta membutuhkan penimbunan, perlu diatur tata air, aliran sungai agar tidak mengganggu sawah dan kebun masyarakat.

"Perusahaan agar berkomitmen terhadap perbaikan jalan desa, jalan kabupaten maupun provinsi yang jadi akses aktivitas pembangunan proyek. Gejolak terjadi setelah bekerja, jadi harus benar benar matang dalam pengelolaan," katanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten OKI, Syarifuddin juga meminta agar dalam pembangunan track kereta api yang mewati persawahan agar diperbanyak saluran air agar tidak pengaruhi drainase di persawahan, serta arus keluar masuk air.

“Mengingat di sana lahan produktif, harus diatur betul drainase dan arus air, jangan sampai terjadi gagal tanam atau gagal panen," ujarnya.

Sementara itu Kadin Lingkungan Hidup OKI, Alamsyah mengungkapkan dampak lingkungan tidak terjadi dalam 1 atau 2 tahun tetapi jadi warisan bagi anak cucu. 

“Kuncinya di amdal, agar kiranya dipilih konsultan lingkungan yang kenal betul kondisi lapangan topografis wilayah karena dampaknya nanti bukan 1-2 tahun, akan jadi warisan anak cucu kita," pungkasnya. (red)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close