Ini Persoalan dan Solusi Banjir dari Masyarakat, Caleg Hingga Aktivis Lingkungan


Arie Perdana Putra 2018-12-14 17:50:43 Palembang 72 kali

Suasana diskusi

PALEMBANG, Kabar28.com,- Gerakan Masyarakat Menolak Palembang Tenggelam menggelar diskusi guna mencari penyebab serta solusi bersama terhadap persoalan banjir tersebut. Acara sendiri berlangsung di salah satu rumah makan kawasan Jalan Angkatan 45, Jumat (14/12/2018).

Dikatakan moderator acara Dedek Chaniago, ada perspektif masyarakat jika kita masyarakat telah memiliki Walikota dan pejabat lainnya. Namun menurut saya dan kami tugas banjir ini tugas bersama kita.

"Tidak salah masyarakat juga untuk merangkumkan solusi dan akan diberikan kepada pemerintah dalam bentuk tertentu. Suport acara diskusi ini oleh Ustad Jamil dirinya bersedekah. Diskusi hari ini mencoba untuk menyampaikan pandangan dan solusi tanpa ada narasumber. Jikapun kita memang dijuluki dengan venesia dari timur mari kita menuju kesitu. Bagaimana caranya memanfaatkan sungai kita," katanya.

Pada kesempatan itu, Ustad Jamil mengungkapkan, acara diskusi tersebut mengangkat isu di kota Palembang khususnya banjir. Dimana menurutnya datangnya banjir bukan tanpa sebab tapi ulah manusia dan bencana oleh Allah SWT.

"Ulah manusia contohnya pembuatan drainase, membangun tidak mengikuti aturan, penempatan yang tidak sesuai tempatnya seperti sampah. Bencana datangnya memang ada di firman Allah karena dosa dosa atau tingkah laku manusia tidak benar," kata dia.

Di lokasi acara, salah satu peserta acara dari media online Eddy Hasan mengungkapkan jika menurutnya persoalan banjir bisa diatasi, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin apa yang sudah ada, contoh tangkul di waduk IBA, tapi tidak berfungsi.

"Padahal bisa dipergunakan ketika hujan menampung usai hujan baru dibuka. Pada dasarnya tanggul itu harus lebih tinggi dari bagan jalan," ucapnya.

Ditambahkan lagi oleh peserta diskusi lainnya Bang benny, hal yakni mengenai drainase yang harus diperbesar, serapan yang kurang diperhatikan seperti dipaksakan untuk membuat saluran. Dimana yang harus dilakukan yaitu membuat kolam retensi.

"Pertama di balakang punti kayu, yang di Damri harusnya lari ke Soekarno Hatta, ketiga harusnya di buat di lahan tanah TNI AU. Lalu soal berikutnya pihak yang kerap melakukan penggalian dengan merusak kembali jalan, trotoar dll yang sudah bagus tadi. Dan yang mengeluarkan izin bahkan balai besar bahkan walikota. Perlu sangat diperhatikan yakni izin para penggali kabel, fiber optik sehingga jangan sampai merusak bangunan jalan yang sudah bagus. Izin harus betul betul di perhatikan, pembangunan harus diperhatikan aspek sosialnya, membangun asal saja, sebelum bangun mesti penuhi semua syaratnya. Persoalan anak sungai juga jadi persoalan, harusnya anak sungai musi dihidupkan kembali 13 anak sungai musi," terang dia.

Perwakilan dari Aliansi Pemerhati Lingkungan Hidup (Ampibi), Ruben mengatakan, Palembang tidak bisa lepas dari banjir sejak zaman jepang bahkan tidak ada jalan keluar,itu dulu. Namun kini menurut saya ada itu, pertama harus cepat mengalirkan air yang kini terhambat serta tersumbat.

"Karena air bisa surut jika cepat dikeluarkan. Dimana menampung airnya ya itu harus di buat penampungan air tersebut. Kedua, kolam retensi yang telah urgen, malah sekarang ada pembuatan yang salah seperti di Kertapati 15 ULU tidak dibutuhkan disitu pembangunan parit, entah mungkin proyek atau apa. Kenapa justru dilokasi yang kerap banjir tidak dilakukan pembangunan," ujarnya.

Dilanjutkan peserta lainnya, Sodiq mengungkapkan, hal banjir di kota Palembang ini harus di topografikan terlebih dahulu. Mengusulkan ke pemerintah agar memetakan wilayah banjir. Jika telah terdeksi maka wilayah menjadi kumpulan air saat hujan, dan itu perlu diketahui sejauh mana dan seberapa banyak.

"Daerah perlu dibuatkan kolam retensi yang dalamnya dapat diukur secara intensitas curah hujan. Notabene pasang surutnya sungai musi juga harus terdeksi. Juga harus ada tanggul yang buka tutup. Anak sungai juga mesti dibuatkan pintu saluran air," ucapnya.

Di tempat yang sama, Caleg DPD RI asal Sumsel Charma, menuturkan jika mau tidak mau kini Palembang bergeser ke kota modern dan mau tidak mau mengalami banjir dan itu lumrah. Mestinya pondasi kebijakan kebijakan pemrintah dan lainnya mampu mengatasi hal hal seperti ini.

"Jika APBD Palembang di kelola dengan baik maka kemungkinan segala persoalan bisa diatasi termasuk banjir. Pak wali pernah menyampaikan segala macam mengantisipasi curah hujan yang tinggi. Tetapi semuanya menyampaikan permasalahan akibat ketika berbagai instansi terkait di panggil oleh walikota dan belum menemukan formula yang tepat mengatasinya," ungkap dia.

Pendapat lain dari Caleg DPRD kota Palembang dari PDIP Arya Herlambang mengungkapkan, mengenai banjir ini ada pertanyaan tersendiri, apakah pemerintah tidak mempunyai dana penanggulangan banjir, ada biaya tapi tidak ada sumber daya manusia mengatasinya atau tingkat kesadarannya masyarakat seperti apa. Lalu persoalan curah hujan, air pasang itu terlalu besar dan banyak hingga tidak mampu menampungnya," ujarnya.

Caleg dari PDIP lainnya Rizky Pratama Saputra juga menyarankan jika kita juga harus menegur semua para kontraktor jika ingin membangun di kota Palembang ini tidak hanya menegur pemerintah saja. Perubahan secara total mesti dilaksanakan sejak kini, memaksimalkan kinerja serta penegasan terhadap aturan yang telah ada.

Sedangkan menurut komentar dari Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arlan menuturkan, penyebab banjir itu sendiri telah kita ketahui bersama, efek pembangunan yang pesat namun tidak memperhatikan aturan seperti parit atau got. Kemudian juga soal pembuatan drainase juga jadi persoalan, dampak pembangunan kini banjir lebih besar dan tinggi seperti underpass simpang patal.

"Kontraktor diwajibkan memperhatikan saluran dan resapan air serta warga sekitar pembangunan. Tidak adanya monotoring dan evaluasi juga berpengaruh, pembuatan got, parit benar benar disesuaikan serta harus bermanfaat jangan hanya menghabiskan anggaran saja. Seperti pencitraan saja atau dana reses dan lainnya," tandasnya.

Sekedar diketahui kembali acara dihadiri beberapa tokoh masyarakat kota Palembang yakni Ustad Jamil, aktivis lingkungan Ruben dn Deedi, Caleg DPD RI asal Sumsel Charma serta Lius. Caleg DPRD Palembang asal PDIP Arya Herlambang dan Rizky Pratama Saputra, pengamat politik dan sosial Bagindo Togar. (ard/ant)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close