Rizal Ramli Sebut Pelemahan Rupiah Baru Permulaan


Muallim 2018-09-26 17:48:51 Ekonomi 64 kali

Ilustrasi (Foto : istimewa)

Jakarta, Kabar28.com,  - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS  tercatat kembali mengalami tekanan. Padahal beberapa minggu lalu sempat membaik.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli menjelaskan nilai tukar dolar AS yang mendekati Rp 15.000 merupakan permulaan. Menurut dia kurs rupiah bisa melemah lebih dalam ke depannya.

Dari data Reuters sore ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 14.901. Rizal menjelaskan, proyeksi tersebut lantaran selama ini langkah yang diambil pemerintah dalam memperbaiki perekonomian hanya berada di belakang atau behind the curve. Hanya Bank Indonesia (BI) yang menurutnya memiliki langkah maju berupa menaikkan suku bunga acuan.

"Ini baru awal doang Rp 15.000. Langkah Menkeu, Menko, dan menteri ekonomi lainnya behind the curve. BI saja yang ahead the curve," ujar Rizal Ramli dalam sebuah diskusi di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Menurut Rizal, langkah pemerintah untuk mencegah pelemahan nilai tukar dengan cara menaikkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) impor pada 1.147 barang konsumsi dianggap hanya berdampak kecil pada penurunan laju impor. dan tak berdampak besar untuk nilai tukar. Menurut dia, nilai impor dari komoditas tersebut hanya sebesar US$ 5 miliar.

"Kebanyakan komoditas ecek-ecek aja, lipstik, baju, yang total impornya hanya US$ 5 miliar. Tapi enggak berani sentuh top ten impor," 

Bahkan mantan Menko Maritim tersebut juga mempertanyakan sikap pemerintah yang tak berani menyetop impor baja. Padahal nilai impor itu mencapai US$ 10,6 miliar. 

"Padahal Krakatau Steel merugi dengan banjir impor baja dari China yang banting harga, baja impor kita US$ 10,6 miliar, yang lain merugi, hadapi dong, tuntut China karena dumping," kata dia. 

Rizal menuturkan, jika pemerintah berani mengambil langkah tersebut, dia memproyeksi laju impor Indonesia akan berkurang menjadi hanya US$ 3 miliar. 

"Kalau kita lakukan, impor berkurang dari US$ 10 miliar ke US$ 3 miliar," tutup dia.

Sumber : detiknews.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close