Ganggu Ketentraman, Warga Minta PT. KIM Ditutup


Arie Perdana Putra 2018-08-07 20:06:51 Ogan Ilir 335 kali

Peresmian PT KIM beberapa waktu lalu

INDRALAYA, Kabar28.com,- PT. Karya Inti Malindo (KIM), perusahaan yang bergerak di bidang ekspor produk dan bahan baku pengolahan komponen, yang baru diresmikan, Rabu (26/7/2018) lalu kini terancam ditutup.

Pasalnya, warga yang bermukim di Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir (OI) resah dengan keberadaan pabrik pengelolahan komponen kayu milik perusahaan PT KIM.

Keresahaan warga lantaran pihak perusahaan terkesan kurang memperhatikan dampak lingkungan dari aktivitas pabrik seperti asap, polusi debu, suara mesin yang bising, serta kondisi badan jalan yang kian rusak akibat setiap hari dilintasi truk-truk angkutan kayu bertonase tinggi.

Bukan tanpa alasan, mengingat jarak antara lokasi pabrik dengan permukiman padat penduduk sangat berdekatan.

Sihab (36), warga Kompleks Perumahan Ridho Residence mengaku, sangat diresahkan dengan keberadaan pabrik tersebut.

"Yang pastinya polusi debu, suara bising, belum lagi ditambah kerasnya suara benturan dari kayu-kayu gelondongan yang diturunkan dari mobil ke gudang pabrik. Kondisi ini sangat mengganggu ketentraman warga," katanya, Selasa (7/8/2018).

Lanjutnya, ia bersama perwakilan ribuan warga di kompleks perumahan lainnya seperti kompleks Perumahan Griya Cipta Indralaya (GCI), RS Sederhana perumahan Griya Makmur Jaya (GMJ) mendesak pemerintah untuk segera menutup paksa operasional pabrik tersebut.

"Selama ini tidak pernah ada pemberitahuan baik secara lisan maupun tertulis dari pihak perusahaan mengenai pembangunan pabrik. Tiba-tiba langsung dibangun dan diresmikan," ujarnya.

Tak hanya itu, dirinya juga mempertanyakan sejauh mana perizinan yang dikeluarkan pemerintah terhadap operasional pabrik. "Seperti terkait Amdal dan izin bangunan," pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut General Manager PT KIM, Syarkowi mengungkapkan, dirinya mendukung rencana warga yang mendesak untuk segera dilakukan penutupan terhadap operasional pabrik PT KIM. Karena, dirinya juga sangat menyesalkan sikap dari Tenaga Kerja Asing (TKA) dari China yang dinilai sangat tidak sesuai prosedur dalam menjalankan usaha, baik sebelum maupun sesudah operasional.

"Seperti dalam perekrutan dan penggajian karyawan yang jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP). Awalnya saya menyarankan agar petugas jaga malam digaji Rp2.7 juta perbulan. Ini malah digaji Rp500 ribu perbulan," ujarnya.

Lanjutnya, dirinya selaku General Manager perusahaan sangat mengakui bila perusahaan tersebut tak sesuai dengan prosedur.

"Tutup saja pabrik itu, saya sudah pusing. Tapi ingat, saya minta kepada pemerintah, sebelum pabrik itu ditutup, amankan dulu 4 orang TKA di situ," pungkasnya. (nik)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close