Laporan Rahasia PBB Sebut Korut Tetap Lanjutkan Program Nuklirnya


Lia Cikita 2018-08-04 14:46:03 Internasional 42 kali

Foto ini diambil pada Rabu (9/5/2018 dan dirilis oleh kantor berita resmi Korea Utara KCNA pada Kamis (10/5/2018). Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo (kiri) berjabat tangan markas Partai Buruh Korea Utara, di Pyongyang.(foto:istimewa)

Washington DC, Kabar28.com - Sebuah laporan rahasia PBB menyebut Korea Utara masih melanjutkan program nuklir dan misil balistiknya yang merupakan pelanggaran terhadap sanksi internasional.

Laporan yang diperoleh pada Jumat (3/8/2018) dari seorang sumber PBB itu, disiapkan para pakar independen yang menyerahkan temuan mereka setiap enam bukan kepada Komite Sanksi Korea Utara PBB.

Laporan itu juga menyebut, Korea Utara juga melanggar sanksi PBB  itu lewat para diplomat dan perwakilannya di luar negeri untuk terus menjual persenjataan konvensional.

Laporan PBB ini seakan menegaskan laporan harian The Washington Post awal pekan ini yang mempublikasikan sejumlah informasi penting termasuk citra satelit yang mengindikasikan Korut tengah membangun misil baru.

Laporan PBB itu juga muncul di saat Menlu AS Mike Pompeo sedang berada di Singapura untuk bertemu dengan para menlu ASEAN.

Di Singapura, Pompeo menegaskan, pemerintah AS akan terus menekan Pyongyang yang belum melakukan tindakan nyata melucuti persenjataan nuklirnya.

"Saya juga menekankan pentingnya menjaga tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Korea Utara untuk mencapai denuklirisasi yang sudah disetujui Ketua Kim," ujar Pompeo.

Selain itu, Pompeo yang menegaskan, pemerintah AS juga menyerukan penghentian pemindahan ilegal bahan bakar antar-kapal untuk Korea Utara.

Pompeo juga memperingatkan Rusia dan menuduh negara itu membantu Pyongyang untuk menghindari berbagai resolusi DK PBB.

"Kami sudah mendapatkan laporan bahwa Rusia mengizinkan kerja sama perusahaan Korea Utara dan memberikan izin masuk untuk pekerja asal Korea Utara," Pompeo melanjutkan.

"Ini adalah masalah serius dan kami akan mendiskusikannya dengan Moskwa," tambah dia.

Pada Jumat (3/8/2018), Kementerian Keuangan AS mengunumkan sanksi terhadap sebuah bank asal Rusia karena membantu sebuah transaksi bank asal Korea Utara.

Sumber:Kompas.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close