Pengamat: Politik Uang Masih Akan Terjadi di 2019


Arie Perdana Putra 2018-07-19 21:26:24 Prabumulih 79 kali

Indra Chaniago

PRABUMULIH, Kabar28.com,- Pengamat Politik Sumsel, Ade Indra Chaniago menyebut situasi politik seperti di tahun 2014 akan terjadi pada tahun 2019. Tak dapat dipungkiri, politik uang masih akan mewarnai setiap hajat demokrasi.

"Meski para pemilih sudah semakin pandai dalam memilih calon legislatifnya atau presiden, tapi masih banyak politikus yang mengandalkan kapital besar untuk mempengaruhi pemilih. Inilah yang bakal memicu masifnya politik transaksional di tahun politik nanti,” bebernya.

Ia juga menjelaskan, politisi baru yang mengandalkan dana besar secara langsung merusak proses pengkaderan di tubuh partai politik (Parpol). Padahal fenomena itu dilihat langsung oleh masyarakat pemilih yang merasa dirinya semakin otonom untuk menjual suara yang dimilikinya.

"Akibatnya, bisa terjadi politik transaksional yang ditandai dengan aksi saling ambil untung antara pemilih dan politisi calon anggota legislatif,” tuturnya.

Kondisi ini, kata Chaniago, menyebabkan cost politik yang tinggi dan pada akhirnya bisa memantik terjadinya skandal mega korupsi. Pola-pola semacam ini sudah jamak terjadi di hampir sepanjang sejarah reformasi di negeri ini. Ia mencontohkan kasus dugaan korupsi dana BLBI, Hambalang dan yang terakhir dugaan mega korupsi KTP-el.

"Hal-hal seperti ini menunjukkan dampak politik biaya tinggi. Kasus korupsi besar yang merugikan negara itu berulang terus meski telah berganti Presiden,” tandasnya.

Di sisi lain, sambungnya, dari beberapa partai baru hanya akan ada satu partai yang bakal lolos Parlementer Threshold. Hal tersebut berangkat dari pengalaman Pemilu sebelumnya. 

"Selain figur pemimpin, faktor lain yang memungkinkan partai lolos yàkni penguasaan media. Karenanya, peluang Partai Perindo yang memiliki banyak media akan mengikuti jejak Partai Nasdem," ujarnya.

Logikanya, sambung dia, partai yang memiliki media memiliki peluang besar untuk mendulang suara. Nah di situlah akan menjadi PR besar bagi partai besar maupun partai-partai yang hanya jadi pengekor, dan partai pendukung yang tidak memajukan kadernya sendiri untuk jadi Capres.

"Saya melihat struktur politik dan tingkat pengenalan akan cukup baik. Menurut saya, Perindo sekarang ini paling berpeluang besar untuk mendapatkan suara terbanyak,” terangnya. (old)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close