Inilah Pertolongan Pertama yang Benar untuk Korban Patukan Ular Kobra


Lia Cikita 2018-07-10 17:05:00 Kesehatan 119 kali

Ilustrasi (Foto : istimewa)

Jakarta,Kabar28.com, - Seorang pemuda 19 tahun bernama Dewa Rizky Achmad dinyatakan meninggal dunia setelah dipatuk ular king kobra peliharaannya. Rizky dipatuk king kobra saat melakukan atraksi di car free day Bundaran Besar Palangkaraya, pada Minggu 8 Juli lalu.

Menanggapi hal itu, Resc Indonesia lewat koordinatornya Dr. dr. Tri Maharani MSI.SpEM Tri, mengaku sangat menyesalkan kasus kematian yang menimpa Rizki. Dia berharap kejadian serupa tidak terulang.

Tri mengaku siap memandu cara memberikan pertolongan pertama pada kasus gigitan ular, guna mencegah akibat fatal dari kasus tersebut. King kobra menyemburkan bisa yang tergolong neurotoxin post synaptik, artinya dapat menyebar dan menyebabkan kelumpuhan otot, kegagalan nafas maupun jantung lalu bisa mengakibatkan kematian.

Jenis bisa seperti ini penanganannya harus diimobilisasi yaitu bagian yang terkena gigit sedapat mungkin tidak digerakkan agar racun tetap tinggal di tempat sampai mendapat pertolongan medis yang benar.

Cara menolong korban gigit ular dengan jenis bisa yang menyerang syaraf ini tidak boleh dengan diikat (torniquet), dikorek atau diisap karena dikhawatirkan akan menyebar ke darah dengan lebih cepat.

"Jika menghadapi kasus gigitan ular dan memerlukan panduan, segera menghubungi nomor telepon 085334030409 agar dapat memberikan pertolongan yang tepat dan kemungkinan besar bisa menyelamatkan jiwa korban," kata ahli Badan Kesehatan Dunia (WHO) di bidang penanganan gigitan ular tersebut.

Pada saat korban Rizki berada di ruang gawat darurat RS Doris di Palangkaraya, dokter setempat sudah berkonsultasi dengan Dr. Tri yang juga ketua Toksinologi Indonesia dan Resc Indonesia.

Bahkan Tri sudah mengirimkan anti-venom monovalen khusus untuk king kobra yang dibeli dari Thailand. Namun, kondisi pasien semakin memburuk karena venom sudah merusak organ tubuhnya dan kemudian meninggal sebelum anti-venom tersebut tiba.

Untuk mengantisipasi kasus serupa di masa mendatang, tim Resc Indonesia pada 13 Juli 2018 ke Palangkaraya guna memberikan pelatihan singkat tentang managemen gigitan ular pada komunitas reptil, para medis dan kalangan medis di sana dengan memakai panduan WHO 2016 untuk awam dan yang tenaga medis untuk penanganan gigitan ular.

Sejauh ini pemerintah Indonesia belum menyediakan anti-venom atau anti bisa ular jenis monovalen king kobra. Yang ada hanya bungarus fasciatus untuk ular welang, kobra juga jenis coloselesma, naja spurtatix untuk ular tanah.

"Saran saya kalau ada kejadian gigitan king kobra segera lakukan imobilisasi, jangan bergerak lalu membawa korban ke rumah sakit terdekat dan hubungi Resc indonesia untuk bantuan identifikasi dan advis terapi maupun antivenomnya,"ujar Tri.

Dia juga menganjurkan semua pemain atraksi ular agar mengikuti pelatihan dari resc Indonesia mengenani penanganan kasus gigitan ular khususnya king kobra, mengingat kejadian gigitan sangat banyak dan pada tahun 2015 saja terjadi 40 kematian karena kurang pengetahuan mengenai penangannya.

Sumber : okezone.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close