Rupiah Melemah, Pengusaha Makanan dan Minuman Kaji Kenaikkan Harga


Lia Cikita 2018-07-08 09:55:16 Ekonomi 54 kali

Ketua Gapmmi Adhi S Lukman, di Jakarta, Sabtu (7/7/2018).(foto:istimewa)

Jakarta, Kabar28.com - Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S Lukman menyatakan depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang terjadi sejak awal tahun hingga sekarang membuat banyak anggotanya kelimpungan.

Pasalnya, para pelaku industri makanan dan minuman tersebut hanya memprediksi batas level kurs rupiah terhadap dollar AS di angka Rp 13.600 hingga Rp 14.000.

"Kita sebenarnya ingin stabil. Tapi kalau tahun ini terlanjur mengikuti APBN patokannya 13.600. Tapi, biasanya industri ada toleransinya 14.000. Tapi, ternyata 14.000 sudah melewati, ancamannya masih terjadi. Makanya saya katakan industri ini lagi hitung-hitungan," ujar Adhi, Sabtu (7/7/2018).

Pelemahan rupiah hingga Rp 14.400 per dollar AS memaksa para pengusaha industri makanan dan minuman memutar otak untuk mempertahankan bisnisnya. Salah satunya, dengan menaikkan harga jual.

Selain untuk bertahan, imbuh Adhi, langkah tersebut juga ditempuh guna menutupi hasil keuntungan dari penjualan atau margin.

"Saya perkirakan pengaruhnya terhadap bahan pokok sekitar 3 sampai 6 persen, tergantung industrinya, jenis bahan kategori pangannya apa. Semakin besar ketergantungan impornya semakin tinggi harga kenaikan pokok produksinya. Ini kita sedang me-review apakah perlu naik harga pokoknya atau tidak," jelas Adhi.

Adhi pun kemudian membeberkan upaya lainnya yang hendak diambil oleh para pelaku industri makanan dan minuman.

Langkah tersebut adalah dengan mengganti bahan baku, mengganti bahan kemasan, dan atau mengubah harga jual. Namun, upaya-upaya tersebut masih dikaji oleh asosiasinya.

"Kalau kita naikkan harga agar margin-nya tidak tergerus, apakah pasar kuat, apakah daya beli mendukung, dan ini lagi hitung-hitungan. Masing-masing bisnis sedang mempertimbangkan itu," imbuhnya.

Meski demikian, Adhi menegaskan belum ada pelaku industri makanan dan minuman yang mengalami kebangkrutan akibat kondisi rupiah yang tak stabil saat ini.

"Definisi terganggu dengan kenaikan harga pokok itu jelas terganggu. Tapi, saya belum mendengar ada industri yang berhenti atau stuck karena pelemahan rupiah ini," ujar dia.

Sumber: kompas.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close