Apakah KM Sinar Bangun Akan Diangkat, atau Tabur Bunga Mendoakan Korban?


Lia Cikita 2018-06-30 13:19:56 Nasional 33 kali

Pencarian korban KM Sinar Bangun sudah memasuki hari ke-13 setelah dua kali perpanjangan, Sabtu (30/6/2018). (foto:istimewa)

Medan, Kabar28.com - Hasil rekaman remotely operated vehicle (ROV) di kedalaman 450 meter Danau Toba pada operasi pencarian korban karam hari ke-11 menyebutkan, posisi bangkai Kapal Motor (KM) Sinar Bangun sudah ditemukan. Yakni, di sekitar tiga kilometer dari Pelabuhan Tigaras.

Dugaan ini diperkuat dengan terlihatnya beberapa sepeda motor, bagian-bagian kapal, dan mayat korban.

Sampai hari ke-13 ini, tim SAR gabungan masih menggunakan ROV dibantu dua pukat harimau yang diturunkan dari KMP Sumut I dan KMP Sumut II.

Namun bukan hal mudah untuk mengevakuasi para korban dan mengangkat bangkai kapal, kedalaman danau menjadi kendala utama yang juga berdampak bagi para penyelamat.

"Harus kami pikirkan matang-matang soal keselamatan, bagaimana kami bisa menolong dan objek bisa terangkat. Alat baru untuk membantu ROV juga sudah didatangkan, ditambah beberapa personel TNI AL dari pusat untuk membantu pencarian," kata Kepala Kantor SAR Medan Budiawan, Sabtu (30/6/2018).

"Jadi ini masih rencana ya, apakah akan dilakukan pengangkatan atau tabur bunga dan mendoakan korban," katanya lagi.

Dia bilang, dua pilihan tersebut akan dirundingkan dulu dengan Pemda, Basarnas, dan keluarga korban. 

Opsi pertama adalah merelakan para korban tetap berada di dasar danau. Lalu opsi kedua, tetap akan dilakukan pengangkatan jasad korban tapi memerlukan waktu yang lama.

Sambil menunggu keputusan itu, pihaknya terus melakukan pencarian dari udara menggunakan helikopter dan penyisiran di lokasi target dengan perahu karet.

"Kami minta doa masyarakat supaya KM Sinar Bangun bisa secepatnya diangkat, tim SAR masih bekerja," pungkasnya.

Catatan penting

Peristiwa tragis karamnya KM Sinar Bangun menjadi catatan penting bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) dalam hal pengelolaan pariwisata.

Utamanya untuk memperbaiki keselamatan, keamanan dan kenyamanan di kawasan pariwisata.

Apalagi Danau Toba yang sedang proses pengusulan untuk diterima menjadi anggota UNESCO.

“Berikan penekanan pada pengelolaan pariwisata. Kesalahan dan permasalahan yang terjadi selama ini tidak boleh terulang lagi, itu merusak citra pariwisata kita sendiri,” kata Pejabat Gubernur Sumut Eko Subowo.

Dunia wisata, menurutnya, tidak bisa lepas dari keunggulan pelayanan kepada pengunjung. Sebab jika mengandalkan fasilitas seperti infrastruktur yang bersifat fisik, belum tentu membuat wisatawan tertarik datang.

Sehingga perlu ada jaminan keselamatan, keamanan dan kenyamanan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK).

“Transportasi kita sedang mengalami persoalan, harus dilakukan perbaikan untuk keselamatan, khususnya transportasi danau. Pertama kita perbaiki SOP dan NSPK-nya, misalnya spesifikasi dan pelayanan. Dermaga juga harus berstandar," ucap dia.

Upaya perbaikan dapat dicapai dengan kerja sama antara pemerintah sebagai regulator, kemudian swasta yang mengusahakan sarana serta pengguna.

Perlu sinergi antara ketiganya, supaya prioritas pemerintah menjadikan Sumut destinasi wisata Nasional terwujud.

“Kalau tidak, maka kita bukan termasuk orang-orang yang belajar. Tempa besi selagi panas, momentum ini harus dimanfaatkan untuk perbaikan, kalau keburu dingin, susah lagi nanti,” imbuhnya.

Seperti diketahui, KM Sinar Bangun karam di perairan Danau Toba pada Senin (18/6/2018) petang. Sebanyak 21 orang selamat dan tiga orang meninggal dunia, sedangkan 164 orang dinyatakan hilang. Sampai hari ke-13 operasi pencarian, belum ada penambahan jumlah korban karena beratnya medan evakuasi meski mayat korban sudah terdeteksi.

sumber:kompas.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close