Menurut LSI, Ini Faktor Menangnya HDMY dan Kalahnya Dodi-Giri


Arie Perdana Putra 2018-06-27 20:36:28 Palembang 125 kali

LSI Rilis Hasil Survey

PALEMBANG, Kabar28.com,- Berdasarkan survei Lingkaran Survey Indonesia (LSI), paslon nomor urut 1 Herman Deru-Mawardi Yahya memimpin perolehan suara sementara 35,91 persen dengan data 94 persen yang masuk dari seluruh Sumsel. 

Peneliti LSI Miftah Khairi Amrillah mengatakan, quick qount bukan hasil akhir daripada Pilgub Sumsel, melainkan indikasi dugaan awal siapa yang memperoleh dukungan tertinggi di Sumsel. Sedangkan untuk hasil resmi tetap menunggu dari KPUD Sumsel. Dari sekian banyak quick qount margin eror 1 persen.

"Quick count dari beberapa sampel TPS. Kalau tabulasi suara pararel itu perhitungan seluruh TPS. TPS yang diamati secara acak dan melakukan manajemen data. Dari DPT 5.656.633 dan jumlah TPS 16.903.  melakukan pendataan di 350 TPS di seluruh kabupaten/kota di Sumsel," ujarnya. 

Miftah menjelaskan, hasil perolehan suara dari data 94 persen yang masuk, yakni paslon Herman Deru-Mawardi  35,91 persen, paslon Dodi-Giri 31,76 persen, paslon Ishak-Yudha 21,08 persen dan paslon Saifudin-Irwansyah 11,25 persen. Dari 10 Dapil di Sumsel, lanjut Miftah, Deru menang di Palembang dan OKU Timur dengan perolehan suara hampir 80 persen. Sedangkan Dodi hanya menang tipis di Dapil 6, 7, 8  9 dan 10. Selisih ketat hanya 5 persen dengan Herman Deru.

"Faktor Deru menang karena berbagai hal, Deru bisa menang di Dapilnya sendiri dengan bisa dapat suara di atas 80 persen. Sedangkan Dodi di Muba hanya menang 62,33 persen. Artinya, pemilih Deru di basisnya bisa dimobilisasi. Sedangkan Dodi hanya 62 persen. Dan di Palembang Deru bisa menyaingi Dodi, selisihnya hingga 10 persen. Dengan pertarungan di Palembang dimenangkan Deru," kata dia. 

Menurutnya, walaupun ada isu untuk Deru namun bisa ditepis dan bisa diyakinkan oleh Deru ke pemilih loyalnya. Bahkan Deru bisa meyakinkan masyarakat OKU Timur memilih Deru hampir 80 persen. "Faktor ketiga, Dodi kalah karena Dodi dianggap masih muda dan belum berpengalaman. Selain itu Dodi dinilai mendompleng bapaknya. Jadi Dodi Reza belum saatnya memimpin Sumsel," bebernya. 

Miftah menjelaskan,  peran wakil dan partai tidak terlalu besar. Karena yang paling mengangkat adalah Cagub, wakilnya di layar kedua. "Isu yang menyerang Mawardi soal ijazah palsu," ucap dia. 

Soal partai, lanjut Miftah, kecenderungan umum ada personalisasi politik. Jadi bukan dilihat dari partai tapi dari figurnya. Kecenderungan itu tidak hanya di Indonesia, tapi di negara lain. Partai hanya berperan 20 persen. Fungsi partai sebagai organisator untuk kampanye. Kalau mobilisasi dilihat figurnya.

"Survei sebelumnya Dodi itu unggul pas bulan puasa. Track record Dodi menanjak. Saat itu ada isu yang melemahkan Deru seperti asusila dan ijazah palsu. Tapi Deru bisa mengklarifikasi, dan itu isu lama. Sementara Dodi, dilihat dari sosok Alex Noerdin yang tak lain Gubernur Sumsel saat ini dan merupakan anak kandungnya, maju dalam konteks Pilkada tidak hanya dilihat sosok ayahnya. Tingkat kepuasaan terhadap Alex 70 persen. Tapi masyarakat menganggap Dodi belum layak memimpin karena masih muda," paparnya.

Selain itu, kata Miftah,  faktor lain Deru unggul sekarang, karena pada survei bulan puasa lalu swing footer saat survei 23 persen.

"Dodi kalah karena dengan selisih cukup besar dengan Deru di pertarungan di Palembang. Sedangkan Dodi menang di wilayah sedikit penduduk," pungkasnya. (ard)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close