IHSG Anjlok Pasca-Lebaran, Bos BEI: Karena Gejolak Dunia


Mutiara Safitri 2018-06-22 13:03:11 Ekonomi 49 kali

Tito Sulistio (Foto : istimewa)

Jakarta, Kabar28.com,- Pasca libur panjang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah. Pada perdagangan hari ini, IHSG dibuka melemah 4 poin atau 0,06% ke 5.818,32. Angka ini jauh lebih baik ketimbang perdagangan kemarin yang ditutup melemah 1,7% ke 5.822,33.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menyatakan, penurunan ini dampak dari gejolak perekonomian dunia saat libur panjang. Hal ini dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Fed Fund Rate (FFR) yang jatuh pada masa libur.

Selain itu gejolak yang terjadi pada IHSG juga dipengaruhi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kian memanas. "Prinsipnya gini, pada dasarnya kan kita tutup dari tanggal 8-20 Juni 2018. Dunia bergejolak (saat itu). Tingkat bunga (FFR) juga naik saat itu," jelasnya saat ditemui di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Kondisi ini pun tak hanya membuat pasar saham Indonesia anjlok, namun juga terjadi penurunan pada pasar saham negara-negara lain."(Pasar saham) dunia pun turun dari mulai 2%-7,%. Kita turun pas 1,8% kemarin jadi sebenarnya ada rekonsiliasi di market sedikit," katanya.

Kenaikan FFR sebanyak 25 bps menjadi 1,75%-2% pada Juni dan akan berlanjut kembali hingga 3-4 kali tahun ini, membuat BI harus menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan 50 bps pun dilakukan BI sepanjang Mei, dan sinyal berlanjutnya pengetatan moneter pun diberikan pada Juni ini.

Kendati demikian, Tito menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Oleh sebab itu menurutnya, jauh lebih baik suka bunga acuan tak dinaikkan.

"Musuh terbesar dari pasar modal adalah tingkat suku bunga dan memang kenaikan tingkat suku bunga ini mau tidak mau cukup mengganggu. Evaluasinya adalah memang kalau bursa ditanya kalau bisa bunga jangan naik," pintanya.

Dia mengakui, kebijakan Bank Sentral memperketat moneter selain stabilitas Rupiah juga untuk mendorong kebutuhan pembiayaan infrastruktur. Namun, menurutnya pendanaan terbesar bukanlah dari sektor perbankan melainkan sektor pasar modal.

"Faktanya (pembiayaan) perbankan tahun kemarin cuma Rp240 triliun, pasar modal Rp802 triliun. Kalau tingkat suku bunga naik, bank juga susah pinjamkan duit, pasar modal juga susah," katanya.

Kendati demikian, dia menyerahkan kepada otoritas terkait untuk memberi kebijakan yang tepat. "Mungkin ada satu trade off yang benar sehingga walaupun bank LDR-nya tinggi pasar modal tetap bisa memiliki dana. Satu trade off yang benar pada tingkat suku bunga tepat dan itu saya lepaskan kepada otoritas pemerintah," tutupnya.

Sumber : okezone.com 

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close