Bagindo: Survey LSI Tak Layak Konsumsi


Arie Perdana Putra 2018-06-12 18:07:37 Palembang 93 kali

PALEMBANG, Kabar28.com,- Pengamat politik Bagindo Togar berpendapat hasil survei Pilkada Sumsel perlu dicermati, jika dipublikasikan saat ini dinilai belum layak untuk dikonsumsi terlebih lagi swing Foters di atas 10 persen.

Dikatakan Bagindo, dalam Konteks ini publik cenderung melirik perkembangan atau dinamika sosial di kontestasi Pilgub Sumsel. Tentu saja diwajarkan, bila beragam upaya atau instrumen dikerahkan oleh para pasangan calon (paslon) dan pegiat politik, mengamatinya agar memperoleh deskripsi, progresifitas konstituen, polarisasi dukungan dan juga elaktibilitas paslon yang tengah berkompetisi.

8 Juni 2018, Lingkaran Survey Indonesia (LSI) mempublikasi hasil survei yang dilakukan rentang waktu 1- 5 Juni untuk pemilihan Gubernur Sumatera Selatan. LSI menyebutkan, Dodi-Giri lebih berpeluang untuk memenangkan Pilkada Sumsel 27 Juni nanti. Dengan perolehan dukungan 27,7%,  menyalip Paslon HDMY 23,2%. Sementara Ishak-Yudha 18,4%, dan Aswari Rifa'i-Irwansyah 8,6% serta Swing Voters 22,1%.

Tatkala Pelaksanaan Pilkada, efektif hitungan hari lagi. Tidak menjadi hal yang Utama, trend Paslon mana yang menguat untuk memenangkan Pemilihan Gubernur nanti, tetapi tidaklah etis juga tidak beralasan Rilis resmi Hasil Survei seperti tersebut diatas disampaikan mendekati Hari Pencoblosan dengan Swing Voters yang tergolong tinggi, diatas 20%, lazimnya tak lebih dari 10% , lebih pantas bila hasil survei sperti itu dilaksanakan ketika  para Paslon Kepala daerah baru saja ditetapkan oleh KPUD sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu, publik kan memaklumi masih besarnya jumlah Pemilih yang belum bersikap," bebernya.

Menurut Bagindo, ada kejanggalan yang terfokus pada jumlah pemilih yang belum menentukan paslon pilihannya, dengan persentase yang sangat besar yaitu 22,1% tadi, tatkala pelaksanaan pilkada, efektif tinggal hitungan hari lagi. Tidak menjadi hal yang utama, trend paslon mana yang menguat untuk memenangkan Pemilihan Gubernur nanti, tetapi tidaklah etis juga tidak beralasan rilis resmi hasil survei seperti tersebut diatas disampaikan mendekati hari pencoblosan dengan Swing Voters yang tergolong tinggi, diatas 20%, yang lazimnya tak lebih dari 10%.

"Lebih pantas, bila hasil survei seperti itu dilaksanakan ketika para paslon baru saja ditetapkan oleh KPU sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Tentu publik memaklumi masih besarnya jumlah Pemilih yang belum bersikap. Kemudian, jelas disampaikan bahwa Paslon nomor urut 4 ‘hanya’ menganggap  kompetitor sejatinya adalah Paslon nomor urut 1," tegasnya.

Di sini ada kesan paslon nomor lainnya bukan rival sepadannya, ditambah upaya khusus me-remind publik, untuk menyoroti kasus asusila atas paslon tertentu yang telah dilupakan masyarakat, sungguh berjarak dengan tatakrama kepatutan. Selanjutnya, ada indikasi upaya branding and driving opinion, bahwa paslon nomor tertentu lebih berpeluang memenangkan pertarungan Pilgub Sumsel.

Secara psikososial, masyarakat yang belum menentukan sikapnya, cenderung akan mengarahkan pilihan terhadap paslon yang berpeluang. Kemudian, para pemilih yang telah bersikap akan menguatkan pilihannya. Tak bisa dihindari, ‘Tarung Opini antar paslon yang berkompetisi, akan lebih humble and wise bila ada paslon yang terusik dengan rilis survei ini, untuk meresponnya dengan melakukan aksi Konseptual Kuantitatif, sebagai kontra opini yang mampu menyajikan data fan fakta yang lebih rasional, teruji serta akuntabel.

Bukan juga dengan bereaksi melakukan  Publikasi Jajak Pendapat oleh lembaga sejenis, yakni Konsep Indonesia, yang mengunggulkan paslon tertentu selisih 6,3 %, hanya 620 responden dan Swing Voters nyaris 30%. Untuk kedepannya, diharapkan lembaga survei yang berfungsi sebagai barometer aspirasi sosial kemasyarakatan, agar lebih wareness dan selektif dalam merepresentasikan kinerja institusinya.

Apa lagi yang bersentuhan terhadap aktifitas maupun sketsa politik warga. Akhirnya, ‘Kecerdasan dan ketangkasan’ masyarakat Sumsel diyakini mampu menyikapi publikasi hasil-hasil survei aktifitas berdemokrasi terkait Pilkada. Tentu saja, dari paslon dituntut untuk tak hanya siap sebagai Sang Pemenang, tapi juga mampu bersikap satria bila belum layak untuk jadi penerima amanah dari rakyat, Sang Pemegang Kedaulatan. (ard)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close