KPK Dalami Keterlibatan Korporasi di Kasus Suap Bupati Mojokerto


Lia Cikita 2018-05-23 19:28:18 Nasional 37 kali

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah (foto: istimewa)

Jakarta, Kabar28.com,  - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah mengakui, pihaknya memang sedang mendalami keterlibatan sejumlah korporasi di kasus suap yang menyeret Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa. Sebab, kasus suap Mustofa erat kaitannya dengan sejumlah korporasi.

Sejumlah korporasi yang tengah dibidik penyidik lembaga antirasuah yakni, PT Tower Bersama dan anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Profesional Telekomumikasi Indonesia (Protelindo). ‎KPK pun akan memanggil petinggi dari dua korporasi itu untuk mendalami andilnya dalam kasus suap Mustofa.

"Pemeriksaan saksi-saksi dari perusahaan tersebut memang perlu dilakukan karena penyidik perlu merinci bagaimana proses perizinan yang dilakukan terkait pembangunan menara telekomunikasi tersebut," kata Febri di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (23/5/2018).

Sebelumnya, tim penyidik KPK sendiri telah ‎menggeledah PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk (TBiG) yang berada di Jakarta. Dalam penggeledahan tersebut, tim menyitabeberapa dokumen dan komunikasi melalui email antara beberapa pihak yang berkaitan dengan perkara‎ ini.

KPK sendiri telah menjerat Permit and Regulatory Division Head PT Tower Bersama Infrastructure (Tower Bersama Grup) Ockyanto; Direktur Operasi PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) Onggo Wijaya dan Bupati Mojokerto, Mustafa Kamal Pasa sebagai tersangka.

Mustafa ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menerima suap senilai Rp 2,7 miliar dari Ockyanto dan Onggo. Suap tersebut berkaitan dengan pengurusan izin prinsip pemanfaatan ruang (IPPR) dan Izin mendirikan bangunan (IMB) atas pembangunan menara ‎telekomunikasi di Mojokerto.

‎Sebelumnya, KPK juga telah menyita sejumlah dokumen terkait dengan izin pembangunan menara telekomunikasi. Sejumlah menara itu tersebar di berbagai lokasi di Mojokerto.

Dokumen itu disita setelah penyidik menggeledah sejumlah tempat. Di antaranya di kantor Regional Office Tower Bersama Grup (TBG) di Surabaya, kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Mojokerto, dan kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto.

Selain kasus suap, Mustafa juga dijerat dengan sangkaan lain. Yakni dugaan penerimaan gratifikasi atas proyek-proyek di lingkungan Pemkab Mojokerto senilai Rp 3,7 miliar.‎ Dalam kasus gratifikasi, Mustofa bersama Zainal Abidin selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto periode 2010-2015.

KPK menduga gratifikasi itu ‎melibatkan keluarga Mustofa dengan menggunakan sarana perbankan.‎ ‎Dalam proses penyidikan kasus itu, KPK melakukan serangkaian penggeledahan di sejumlah lokasi. Dari penggeledahan itu, ‎tim penyidik KPK telah menyita uang senilai Rp4 miliar.

Dari uang Rp4 miliar yang disita, terdapat Rp 3,7 miliar yang ditemukan tim penyidik di rumah orangtuanya Mustofa. Uang tersebut disimpan di lemari di sebuah kamar.

Sumber : okezone.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close