Minum Es saat Cuaca Panas Justru Bikin Tambah Haus dan Batuk, Benarkah?


Lia Cikita 2018-05-09 19:04:35 Gaya Hidup 139 kali

Ilustrasi (Foto : istimewa)

Kabar28.com, - Cuaca di Indonesia memang cenderung tidak dapat diprediksi dengan tepat, karena sering berubah-ubah dari panas dan langsung hujan. Hal tersebut tentu dapat membawa dampak negative bagi kesehatan. Tubuh menjadi lebih rentan terkena serangan penyakit.

Di sisi lain, cuaca panas mendorong seseorang untuk selalu ingin mengonsumsi air dingin. Selain menyegarkan, ada sebuah mitos yang berkembang di tengah masyarakat bahwa minuman dingin sangat ampuh menurunkan suhu tubuh. Mitos ini sebetulnya didukung oleh berbagai studi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Namun sebuah studi baru yang dilakukan oleh Universitas Ottawa mematahkan hipotesis tersebut dan menyatakan minuman hangat ‘mungkin’ menjadi pilihan terbaik untuk menjaga kestabilan suhu di dalam tubuh.

Para peneliti menemukan, sistem penginderaan yang berada di dalam mulut, tenggorokkan, dan perut dapat memicu keluarnya keringat ketika seseorang mengonsumsi cairan panas. Namun uniknya, suhu di dalam tubuh tetap seimbang bahkan mengalami penurunan.

Untuk mengetes temuan tersebut, Ollie Jay dan timnya dari Universitas Ottawa melakukan survey terhadap 9 responden. Para responden diminta untuk bersepada selama kurang lebih 75 menit sambil mengonsumsi air panas pada level-level tertentu.

Tidak seperti penelitian sebelumnya, Dr Jay tidak hanya mengandalkan terkometer rektal sebagai proxy untuk suhu inti. Sebaliknya, ia memantau tingkat metabolisme dan menyebarkan delapan thermometer di beberapa bagian tubuh, termasuk pada bagian dalam hidung dan kerongkongan.

Melalui pendekatan yang dikenal sebutan “kalorimeteri partisional” ini, ia dapat memperolah perhitungan yang lebih akurat terkait total panas yang masuk dan keluar dari tubuh responden. Perbedannya memang sangat halus tetapi kursial, karena jika Anda meminum segelas penuh air es, cairan tersebut justru akan memicu perubahan suhu pada thermometer rektal yang disematkan di bagian perut.

Dengan kata lain, indikator thermometer akan mengalami penuruhan suhu yang cukup signifikan, namun dengan kondisi tubuh yang tidak benar-benar dingin. Studi baru juga menunjukkan bahwa meminum air panas memang memicu keluarnya keringat, tetapi juga ampuh dalam menurunkan suhu tubuh.

Sebaliknya, meminum air dingin justru menghasilkan respon yang berlawanan, meski keringat yang dikeluarkan tidak sebanyak ketika meminum air panas. Meminum air dingin yang berlebihan juga dipercaya dapat menyebabkan tubuh mengalami dehidrasi dan batuk.

Pertanyaannya, apakah penelitian ini bisa menjadi bukti bahwa meminum air panas di cuaca yang terik merupakan pilihan terbaik?

“Ya,” kata Dr Jay, seperti dilansir daritheglobeandmail, Rabu (9/5/2018).

Lebih lanjut Jay menegaskan, untuk menurunkan suhu tubuh, keringat yang dikeluarkan harus sepenuhnya menguap sehingga menghasilkan efek pendinginan. Contohnya, jika Anda berolahraga terlalu keras, atau memakai terlalu banyak pakaian, keringat yang dihasilkan cenderung lebih banyak tetapi tidak dapat menguap secara maksimal. Sebagai tambahan, Anda bisa memperhatikan akumulasi keringat yang dikeluarkan oleh tubuh.

“Jika keringat yang keluar berlebihan hingga menetes ke tanah, maka sebaiknya Anda meminum air dingin,” tukasnya.

Sumber : okezone.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close