Fakta-fakta Isu Penyerangan Ulama


Lia Cikita 2018-03-14 22:00:01 Nasional 85 kali

Ilustrasi (Foto : istimewa)

Jakarta, Kabar28.com,  -Beredarnya isu penyerangan ulama membuat resah masyarakat. Ada kejadian penyerangan ulama yang memang benar terjadi, tapi ada lebih banyak isu yang teridentifikasi hoax.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian membeberkan penanganan isu penyerangan ulama yang dilakukan kepolisian di sejumlah wilayah. Dari hasil identifikasi ada 47 laporan isu penyerangan ulama, namun ada 5 kejadian penyerangan yang benar-benar terjadi.

Isu penyerangan ulama ini dibuat sejumlah orang yang disebut Tito bermotifkan politik dan ekonomi. Pelaku menyebarkan isu penyerangan di media sosial dengan korban seolah-olah ulama. Pelaku memviralkan isu ini sejak awal Februari.

Siapa pelakunya? Kasatgas Nusantara yang menjabat sebagai Staf Ahli Kapolri bidang sosial dan ekonomi, Irjen Gatot Eddy Pramono menyebut isu penyerangan ulama ini disebar kelompok eks anggota Saracen dan Muslim Cyber Army (CMA)."Jadi sebagian besar itu kasusnya tidak terjadi sama sekali. Tapi dibuat berita di media sosial seolah terjadi peristiwa. Kami di lapangan, kami belum menemukan adanya penyerangan sistematis terhadap tokoh agama, tempat ibadah atau ulama. Belum, belum bukan berarti tidak," sambung Tito.

Setelah identifikasi dilakukan, polisi menangkap 6 orang pelaku terkait hoax penyerangan ulama yang tergabung dalam MCA. Para pelaku disebut Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran sering melempar isu yang provokatif di media sosial seperti isu kebangkitan PKI, penculikan ulama.Penyebaran isu penyerangan dimaksudkan memecah belah masyarakat sehingga muncul keresahan masyarakat dan berdampak pada kepercayaan terhadap pemerintah dalam penanganannya.

"Dan penyerangan terhadap nama baik presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu," kata Fadil.

Soal isu penyerangan ini, Wakapolri Komjen Syafruddin menegaskan jaminan keamanan terhadap pemuka agama dari Polri. Polri menjaga pemuka agama dari aksi teror.Pelaku bekerja memanfaatkan Facebook untuk menyebarkan ujaran kebencian dan hoax. Seorang tersangka Bobby Gustiono misalnya, dia memiliki tugas sebagai admin dari 3 grup Facebook MCA. Bobby juga bertugas sebagai 'sniper' untuk menyerang akun-akun yang dianggap sebagai lawan dengan menyebarkan virus yang merusak perangkat elektronik si penerima.

"Waktu saya mengunjungi para ulama, pesantren, dan sebagainya, (menyatakan) bahwa Polri memberikan jaminan keamanan untuk seluruh ulama dan pemuka agama," kata Syafruddin Rabu (7/3).

Sumber : detiknews.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close