Israel Tutup Pusat Penampungan Migran di Holot


Lia Cikita 2018-03-14 17:07:50 Internasional 79 kali

Ilustrasi (Foto : istimewa)

Tel Aviv, Kabar28.com, - Pemerintah Israel telah resmi menutup pusat penampungan migran di Holot pada Senin (12/3/2018) tengah malam lalu.

Penutupan tersebut sebagai bagian dari rencana pemerintah dalam mendeportasi ribuan pencari suaka asal Afrika yang telah memasuki wilayah Israel secara ilegal.

Pusat penahanan Holot pertama kali dibuka pada 12 Desember 2013 yang bertujuan untuk memusatkan para pencari suaka yang banyak tersebar di sejumlah kota.

Dilansir dari Times of Israel, keputusan penutupan Holot diambil melalui suara bulat di kabinet pada Desember 2017.

Menteri Keamanan Publik Gilad Erdan bahkan menyebut fasilitas tersebut telah menjadi hotel bagi para penyusup ilegal yang dibiayai publik.

Pemerintah Israel telah menawarkan kepada para imigran Afrika untuk secara sukarela meninggalkan wilayah Israel dan akan mendapat uang saku 3.500 dolar AS (sekitar Rp 48 juta) serta tiket penerbangan, atau memilih dipenjara.

Beberapa organisasi profesi mulai dari pilot, dokter, mantan duta besar Israel, bahkan para korban selamat Holocaust telah meminta kepada pemerintah untuk menghentikan rencana deportasi para migran.

Mereka menyebut rencana tersebut tidak pantas dan dapat merusak citra Israel di mata masyarakat dunia.

Namun pemerintah berkeras dengan menyebut para pencari suaka merupakan migran ekonomi yang datang dengan tujuan mencari pekerjaan dan bukan pengungsi.

"Kami tidak mengambil tindakan terhadap pengungsi. Kami mengambil tindakan terhadap imigran ilegal yang datang dengan tujuan pekerjaan," kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di hadapan kabinet dalam pertemuan Januari lalu.

"Israel tetap akan menjadi tempat perlindungan bagi para pengungsi sejati dan akan mengeluarkan para penyusup ilegal," tambahnya.

Juru bicara Otoritas Penduduk, Sabine Hadad, mengatakan sebagian dari para pencari suaka itu sepakat meninggalkan Israel dengan uang saku dan tiket menuju Uganda atau Rwanda. Sebagian lainnya memilih pergi secara individu.

Hadad menambahkan, persidangan yang digelar Otoritas Penduduk telah menetapkan 300 pencari suaka tidak memenuhi persyaratan untuk tinggal di Israel dan harus memilih deportasi atau penjara.

Sedangkan 480 orang pencari suaka dibebaskan dan mendapat visa sementara.

Namun mereka dikenai aturan pembatasan geografis yang melarang mereka tinggal di tujuh kota dengan jumlah pencari suaka tertinggi, yakni Tel Aviv, Netanya, Eilat, Bnei Barak, Petah Tikvah, Ashdod, dan Yerusalem.

Selama 2018, sebanyak 398 imigran Eritrea dan 49 dari Sudan sepakat untuk meninggalkan Israel dengan uang saku.

Di antara mereka, 102 orang kembali ke negara asal atau setuju dikirim ke Uganda dan Rwanda, sementara lainnya dimukimkan kembali di negara lain yang tidak disebutkan.

Holot awalnya dibuka untuk mendorong para imigran ilegal meninggalkan Israel jika tidak ingin menjalani penahanan.

Sumber : kompas.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close