Geger Muncul Poros Ketiga, Apa Ujungnya?


Lia Cikita 2018-03-09 21:48:16 Politik 83 kali

Ilustrasi poros ketiga di Pilpres 2019. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Kabar28.com,  - Poros ketiga di Pilpres 2019 berawal dari usulan Presiden PKS Sohibul Iman. Isu tersebut kemudian mencair hingga memunculkan sejumlah capres alternatif.

Wacana poros ketiga memang muncul agar Pilpres 2019 tak hanya diikuti oleh dua pasang calon dengan koalisi Joko Widodo (Jokowi) dan koalisi Prabowo Subianto. PKS sendiri secara gamblang sudah mengisyaratkan untuk bergabung dengan koalisi Prabowo bersama Gerindra.

Saat ini, beberapa partai yang menghuni parlemen memang belum menentukan sikap untuk Pilpres 2019. Selain Gerindra dan PKS, ada Partai Demokrat, PKB, dan PAN. Dua nama terakhir merupakan pendukung Jokowi pada pemerintahan saat ini.

Sohibul mendorong 3 partai tersebut membentuk poros baru dalam Pilpres 2019. Lagi pula, kata Sohibul, sikap dua dari tiga pimpinan partai tersebut 'abu-abu'.

Golkar yang sudah menyatakan dukungan untuk Jokowi di 2019 juga menyambut baik wacana poros ketiga. Hanya saja partai berlambang pohon beringin ini berharap agar isu tersebut tidak membuat rontok koalisi pemerintah yang mendukung Jokowi.
"PAN, PKB, sama Demokrat. Yang kita lihat, kan Demokrat di luar pemerintahan, PAN paro-paro (separuh-separuh), Cak Imin (Ketum PKB Muhaimin Iskandar) kadang dalam, kadang luar. Gabung saja, nggak apa-apa, atas dasar keinginan bersama untuk membentuk demokrasi yang sehat, itu bisa," ucap Sohibul, Kamis (1/3/2018).

PKB yang kini masih merupakan pendukung Jokowi menyambut baik usulan tersebut. Apalagi niat PKB untuk menjadikan sang ketum sebagai cawapres seolah dimentahkan oleh koalisi Jokowi. Meski begitu, PKB masih berharap bisa tetap berada di koalisi pemerintah, namun dengan syarat menjadikan Cak Imin sebagai cawapres.

"Sebenarnya keputusan PKB tergantung dari Pak Jokowi dan Mbak Mega (Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, red). Bila Mbak Mega minta, saya rasa Cak Imin akan ke Jokowi," tutur Wasekjen PKB Daniel Johan.

Sementara Demokrat mengaku masih memperhitungkan langkah untuk Pilpres 2019. Poros ketiga ini kemudian memunculkan wacana pasangan Muhaimin Iskandar dengan ketua Kogasma Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk berduet. Demokrat menyambut baik itu.

"Jadi peluang itu amat terbuka. Poros ketiga sangat mungkin," sebut Ketua Divisi Komunikasi Publik Demokrat, Imelda Sari.

PAN yang awalnya tampak ingin berada di koalisi Prabowo, lalu mulai tertarik dengan wacana tersebut. Bahkan PAN menyebut sejumlah nama capres alternatif mulai dari Jenderal Gatot Nurmantyo hingga Gubernur DKI Anies Baswedan.

"Ya segala kemungkinan kan bisa, calon tunggal bisa, dua calon bisa, tiga calon bisa. Lihat perkembangan nanti, pertemuan partai-partai saya kira bulan-bulan lima lah. (Mei) Sudah ketahuan," kata Ketum PAN Zulikfli Hasan.

Namun belakangan, Zulkifli terlihat mulai gamang. Meski Ketua Majelis Kehormatan PAN Amien Rais meminta agar PAN tidak mendukung Jokowi di Pilpres 2019, Zulkifli sempat pesimis poros ketiga sulit direalisasi.

"Secara matematis, poros ketiga mungkin, tapi kan saya katakan tidak mudah. Pak Jokowi kan surveinya tinggi di segala lini. Namanya incumbent, punya kekuatan bisa saja gitu. Secara matematis bisa, tapi yang mungkin bisa dua (poros)," paparnya.

Poros ketiga dengan menggabungkan Demokrat-PAN-PKB memang memungkinkan untuk mengusung calon pasangan di Pilpres 2019. Kekuatan mereka di parlemen bisa memunculkan tiket bagi pasangan calon.

Butuh 20 persen kursi DPR untuk bisa mengusung pasangan capres-cawapres di Pemilu 2019. Jumlah kursi di DPR saat ini ada 560, sehingga dibutuhkan 112 kursi untuk mewujudkan cita-cita itu.

Demokrat saat ini memiliki 61 kursi atau 10,9% kursi DPR, kemudian PAN punya 48 kursi atau 8,6% kursi DPR. Jumlah ini memang masih kurang untuk mengusung capres-cawapres. Tetapi jika ditambah PKB, yang memiliki 47 kursi atau 8,4% kursi DPR, jumlahnya menjadi cukup.

Gerindra menyambut baik dengan wacana poros ketiga itu. Dengan tiga pasangan capres, situasi pilpres diprediksi akan lebih adem ketimbang dua pasangan capres seperti Pilpres 2014 lalu.

"Ya kan gini, pertama kan kita menghormati semua keputusan partai. Kalau sudah 5 partai Pak Jokowi kan, sekarang tahu-tahu ada poros baru katakanlah Cak Imin-AHY silakan saja, kita menghormati. Jangan ada calon tunggal. Lebih banyak lebih bagus,supaya masyarakat punya banyak pilihan" ungkap Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria.


"Bagi kami Partai Golkar mengharapkan dalam pembentukan poros baru Pilres 2019 nanti tak ganggu kekompakan partai pendukung pemerintah untuk mengantarkan pak Jokowi sampai 2019," ujar Ketua DPP bidang Media dan Penggalangan Opini Ace Hasan Sadzily.

Partai-partai yang diwacanakan bergabung di poros ketiga kemudian menggelar pertemuan. Hanya saja belum ada hasil signifikan pada pertemuan kemarin, Kamis (9/). Demokrat-PKB-PAN pun berencana menggelar pertemuan kembali untuk membahas peluang terbentuknya poros baru untuk Pilpres 2019.

"Tadi kami sepakat pertemuan ini belum yang pertama dan terakhir, masih panjang. Hari ini tuan rumah Demokrat. Tadi kami sepakat tuan rumah berikutnya mas Eddy PAN nanti dia jelasin dimana lagi. Setelah dari PAN baru PKB terus berputar," kata Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan usai pertemuan.

Lantas mungkinkah poros ketiga akan terbentuk dan meramaikan gelaran Pilpres 2019? 

Sumber : detiknews. com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close