Turki Desak Iran dan Rusia Bujuk Suriah Hentikan Bombardir di Ghouta


Lia Cikita 2018-02-23 21:49:27 Internasional 89 kali

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu berbicara dalam konferensi pers di Ankara, Jumat (16/2/2018).(AFP/ADEM ALTAN Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Turki Desak Iran dan Rusia Bujuk Suriah Hentikan Bombardir di Ghouta", http://internasional.kompas.com/read/2018/02/23/21081041/turki-desak-iran-dan-rusia-bujuk-suriah-hentikan-bombardir-di-ghouta. Penulis : Agni Vidya Perdana

Ankara, Kabar28.com, - Pemerintah Turki mendesak kepada Rusia dan Iran untuk menghentikan serangan yang dilakukan rezim Suriah di daerah kantong pemberontak di timur Ghouta yang telah menewaskan lebih dari 400 warga sipil setelah serangan sejak Minggu (18/2/2018).

"Rusia dan juga Iran harus menghentikan serangan rezim Suriah," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, dilansir AFP, Jumat (23/2/2018).

Wilayah timur Ghouta merupakan salah satu zona de-eskalasi yang diciptakan bersama oleh Turki, Iran, dan Rusia sebagai salah satu upaya mencapai perdamaian dan menghentikan perang di Suriah yang telah berlangsung selama tujuh tahun.

Menurut Cavusoglu, serangan yang dilancarkan rezim Suriah di kawasan kantong, seperti di Idlib, bertentangan dengan kesepakatan yang dicapai ketiga negara.

Badan Pengawas Hak Asasi Manusia untuk Suriah melaporkan, setidaknya 426 warga sipil, termasuk 98 anak-anak, menjadi korban tewas akibat serangan yang dilancarkan rezim penguasa dan sekutu Rusia-nya. Sementara lebih dari 2.000 orang terluka dalam serangan ke kawasan kantong di timur ibu kota itu.

"Sejak dimulainya perang, puluhan ribu warga telah menjadi korban, hanya di kawasan Ghouta, dan ini harus dihentikan. Orang-orang ini tidak seharusnya tewas," kata Cavusoglu. Serangan ke Ghouta masih terjadi hingga Jumat (23/2/2018), mengabaikan desakan internasional dan menyebabkan sembilan orang tewas.

Dewan Keamanan PBB telah menjadwalkan untuk voting sebuah rencana resolusi yang meminta dilakukannya gencatan senjata selama 30 hari di Ghouta dan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis. 
 

Sumber : kompas.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close