Panas Dingin Hubungan China-AS Selama Trump Berkuasa


Lia Cikita 2018-01-19 16:47:00 Internasional 80 kali

Bagi sebagian tokoh konservatif di Washington, Cina adalah saingan terbesar Amerika Serikat. (Foto : istimewa)

Washington, Kabar28.com,  - Satu tahun setelah pelantikan Donald Trump, para pengamat sepakat hubungan dagang AS dengan Cina bisa jauh lebih buruk. Lantas bagaimana kelanjutan hubungan AS - Cina di tengah potensi konflik dagang yang semakin memanas?

Donald Trump berkali-kali pernah mengecam Cina. Ketika masa kampanye, ia menyebut Cina sebagai mitra dagang yang tidak adil, dan menuduh negara tersebut sebagai manipulator mata uang dan "pencuri terbesar dalam sejarah," mengacu pada lapangan kerja di AS. Ketika atlet Cina terlibat skandal doping, Trump mencuit bahwa bukan hal yang mengherankan Cina tertangkap berbuat curang selama Olimpiade, "itulah modus operandi mereka - berbohong, menipu dan mencuri semua urusan Internasional". Trump kerap memperlihatkan sikap yang sangat keras terhadap Cina. Di jejaring sosial, cuitan Trump khusus untuk Cina berjumlah lebih dari 200 kali, demikian menurut ABC News.

Namun, di luar lini massa, sebenarnya apa yang telah dilakukan AS sejauh ini? "Relatif sedikit," ujar pengamat politik dari Universitas Köln, Thomas Jäger. "Dan jawaban atas pertanyaan 'mengapa?' Ada yang berpendapat bahwa Trump terkejut atas konflik di Korea Utara sehingga ia menunda kebijakannya yang secara ekonomi menyerang Cina, sementara yang lain mengatakan penyebabnya, sangat sederhana, hanya karena posisi instansi terkait belum ditempati."

Ketegangan mulai terasa Agustus 2017, ketika Trump secara resmi menginstruksikan Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer yang dilantik Mei 2017, untuk menyelidiki apakah Cina telah melanggar kepentingan AS dengan menerapkan praktik perdagangan yang tidak adil, misalnya seperti kebijakan Cina atas "hak kekayaaan intelektual AS". Cina pun bereaksi dengan memperingatkan kemungkinan terjadinya sengketa dagang.

Bagi sebagian tokoh konservatif di Washington, Cina adalah saingan terbesar Amerika Serikat. Mimpi buruk mereka: Cina dapat unggul secara ekonomi dan geopolitik di atas AS. "Mereka berargumen jika AS tidak menyelesaikan tantangan ini sekarang, maka nantinya akan terlambat karena Cina akan terlalu kuat untuk dapat ditanggulangi," kata Thomas Jäger.

Amerika serikat menurut pengamat ekonomi asal Universitas Peking, Christopher Balding,menelan kekecewaan besar terhadap Cina. "Selama bertahun-tahun, ada harapan dengan sendirinya pasar Cina akan terbuka," tutur Balding. Tapi yang terjadi malah sebaiknya. "Pemerintah Cina mengambil langkah proteksi yang semakin kuat dalam menerapkan kebijakan ekonominya." Menurut Balding, pemerintah di Beijing dianggap berlaku tidak adil karena menerapkan standar ganda: ketika investor asing mengalami masa sulit di Cina, mereka justru meminta akses gratis ke pasar AS.

Pemerintahan Trump pun melakukan perlawanan dengan membatasi perdagangan dan investasi dengan Cina. Pemerintah di Pekir tidak bisa mengeluh, ketika AS hanya membuka akses pasar hanya untuk aluminium dan baja. Meski demikian, lobi-lobi Wall Street di Washington sadar betul bahwa hubungan dagang AS dan Cina hanya akan membawa keuntungan lebih besar jika konfrontasi terbuka bisa dihindari.

Namun Christopher Balding percaya, masa indah dengan Peking akan berakhir dalam waktu dekat. "Saya yakin bahwa kita akan segera melihat suatu masa dimana konflik perdagangan akan memanas, tentu saja!" tuturnya. Senada dengan Balding, Shi Yinhong, pengamat dari universitas negeri di Peking juga mengatakan bahwa saksi perdagangan AS terhadap Cina diperkirakan akan terjadi pada paruh pertama tahun 2018 ini.

Meski Beijing berusaha menjaga hubungan baik dengan AS, bahkan melakukan "kunjungan kenegaraan ke Trump", namun upaya tersebut dianggap sia-sia sebab tak lama setelah lawatan ke Amerika Serikat, Trump mencap Cina sebagai saingan. Shi Yinhong menyimpulkan bahwa strategi Trump terhadap Cina "sangat sederhana dan sangat buruk."

Sumber : detiknews.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close