Sulap Tempurung Kelapa Jadi Benda Berharga


Arie Perdana Putra 2018-01-10 20:38:49 Ogan Komering Ulu Timur 32 kali

Guci hasil karya Syafri Naldi, (foto : ist)

MARTAPURA, Kabar28.com,- Bagi sebagian orang mungkin tempurung kelapa tidak ada nilainya, bahkan hanya berupa sampah yang tidak berharga. Tetapi ditangan Syafri Naldi dia bisa menyulap limbah tempurung kelapa menjadi karya seni yang bernilai tinggi.

Melalui tangan kreatifnya pria kelahiran 23 Maret 1973 ini, tempurung kelapa yang semula hanya sampah bisa diolah menjadi bermacam-macam karya seni, misalnya pas bunga, tas, teko, cangkir dan karya seni lainnya.

Dia mengungkapkan, sebelum melakoni usaha kerajinan tempurung kelapa, selama ini keahliannya dalam bidang seni hanya dia terapkan kepada siswa di sekolah tempat dia mengajar.

Namun setelah dia amati, tempurung kelapa yang selama ini hanya menjadi tumpukan sampah akhirnya dimanfaatkan menjadi karya seni dan bisa mendapatkan uang. Dengan bermodal ilmu keterampilan dan pengetahuan seni rupa dia mencoba memulai usaha yang belum lama digelutinya ini.

”Latar belakang pendidikan saya adalah seni rupa, selama ini ilmu saya itu hanya diterapkan untuk siswa saya di sekolah saja,” ujar guru Seni Rupa SMA Muhamadyah BK 5, Kecamatan Buay Madang Timur, OKU Timur ini.

Tapi karena melihat prospek yang cukup bagus, akhirnya dia nekat mencoba untuk mengolah limbah bekas buah kelapa itu. “Hasilnya lumayan, sudah ada masyarakat yang berminat untuk membeli karya saya. Sekarang pemasaran baru untuk wilayah OKU Timur, kerajinan yang dibuatnya dibandrol kisaran Rp50 ribu hingga Rp300 ribu tergantung ukuran,” terangnya.

Bahan baku utama yang dipakai yakni, tempurung kelapa dan serbuk sisa gergaji kayu. Proses pembuatan juga tergantung bentuk dan ukuran yang dibuat. Misalnya untuk pas bunga, bisa diselesaikan selama tiga hari. “Yang lama itu karena menunggu proses pengeringan lem,” ujarnya.

Sedangkan proses pembuatan tas tergantung motif, pembuatan tas bisa selama tiga hingga empat hari. “Tempurong kelapa dipotong berbentuk petak petak, kemudian baru dirangkai. Untuk tempurung kelapa mengambil dari tempat usaha parutan kelapa dan serbuk kayu dari tempat usaha meubel yang ada di dekat rumah,” tambahnya.

Dia berharap, kepada pemerintah agar kiranya bisa membantu pemodalan dan pemasaran. ”Ya pak, saya sudah pernah mengajukan pinjaman ke bank namun harus ada jaminan karena itu saya berharap ada pinjaman modal dari pemerintah,” jelasnya. (app/rel)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close