Protes Lahan Dikuasai PTPN, Kakek Ini Dirikan Tenda Darurat


Arie Perdana Putra 2018-01-08 10:03:27 Empat Lawang 74 kali

Tenda milik Ujang Zakaria, (foto : ist)

TEBING TINGGI, Kabar28.com,- Ujang Zakaria (77) warga Kelurahan Tanjung Makmur, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang terpaksa mendirikan tenda darurat untuk tempat tinggal bersama lima orang anaknya.

Aksi ini dilakukannya sebagai bentuk protes lantaran lahan miliknya seluas 75 hektar yang diduga dikuasai dan dikelola ‎oleh PT. Perkebunan Nusantara VII (PTPN 7), ‎belum juga mendapat ganti rugi pembebasan lahan dari perusahaan tersebut. 

‎Ujang Zakaria mengaku, kalau tanah dengan luas 75 hektar itu adalah miliknya, dengan dasar bukti surat tanah tahun 1975 yang disimpannya hingga saat ini. 

"Dulu lahan ini di tahun 1986, memang ditanami karet atas permintaan PTPN 11 yang sekarang namanya berubah menjadi PTPN 7, dengan perjanjian pinjam pakai dan bagi hasil atas tanam tumbuh yang ada," ungkapnya didampingi kelima anaknya saat ditemui di lokasi tenda tempat mereka bermalam, Minggu (07/01/2018).

Ujang mengatakan, jika beberapa tahun yang lalu ada perwakilan dari pihak PTPN yang menemuinya untuk melakukan pembebasan lahan dengan cara ganti rugi. Namun sampai saat ini janji tersebut tak kunjung terealisasi‎, sehingga dia menuntut haknya dengan cara mendirikan tenda darurat di atas lahan tersebut. 

"Saya hanya minta penuhi tuntutan saya, yakni kembalikan lahan kami seluas 75 hektar atau ganti rugi tanah kami yang telah dikuasai oleh PTPN selama 31 tahun ini," ujarnya.

Dia menegaskan, apabila tuntutannya ini tidak direspon oleh pihak PTPN 7, maka ia akan mengadu ke Pemkab Empat Lawang, bahkan hingga ke tingkat Provinsi‎ demi untuk mendapatkan keadilan atas lahan miliknya tersebut. "Bahkan nanti bupati juga akan saya temui‎, sebagai warganya yang meminta keadilan," ungkapnya.

Janu Praptomo (34) salah satu anaknya menambahkan, ‎selama permasalahan ini belum ada titik temunya, maka pihak PTPN tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di atas lahan milik keluarganya itu.

"‎Kami melarang untuk mengambil hasil tanaman yang ada di lahan milik kami ini, jika belum ada ganti rugi dari perusahaan terkait. Ini sudah melemahkan mental namanya, diskriminasi terhadap rakyat kecil seperti kami ini," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian 3 Afdeling Unit Usaha Senabing PTPN 7, Mulyadi, ketika ditemui untuk mengkonfirmasi permasalahan ini, tidak berada di tempat.

"Bapak tidak ada. Memang saya tahu kalau pak Ujang dan anak-anaknya sudah beberapa malam ini ‎mendirikan tenda di sana, tapi saya tidak tahu dengan permasalahannya, ini uruannya para pimpinan kita," kata Rubianto, salah seorang karyawan di Kantor Afdeling Unit Usaha Senabing PTPN 7, di Kelurahan Tanjung Kupang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang. (app/rel)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close