Buronan Kasus Upal Ini Diringkus Polres Lubuk Linggau


Arie Perdana Putra 2018-01-05 08:18:08 Lubuk Linggau 146 kali

Press release Polres Lubuk Linggau, (foto : ist)

LUBUK LINGGAU, Kabar28.com,- Pelarian Rahman Azhari Alias Aan (31), warga Gang Cakram, RT 02 No 28 Kelurahan Watervang, Kecamatan Lubu Linggau Timur, Kota Lubuk Linggau yang merupakan buronan kasus Uang Palsu (Upal) harus terhenti.

Pasalnya, Tim Buser dan Unit Pidana Khusus (Pidsus) Sat Reskrim Polres Lubuklinggau berhasil mengamankan diduga pelaku pada Selasa (2/1/2018) lalu sekitar pukul 16.30 WIB di rumahnya tanpa melakukan perlawanan.

Dari tangan diduga pelaku, polisi berhasil mengamankan satu buah printer merek canon warna hitam dan 13 lembar upal pecahan Rp 100 ribu.

Kasat Reskri Polres Lubuk Linggau, AKP Ali Rojikin membenarkan, penangkapan Daftar Pencarian Orang (DPO) upal dengan dasar LP / A_23/II/2015/Res Llg, tanggal 16 Februari 2015. Sebelumnya, Tim Buser mendapatkan informasi bahwa ada orang yang akan melakukan transaksi menggunakan upal di komplek Toserba.

Sebelumnya, dilakukan penyelidikan dan menangkap Mirwanto alias Anto (telah menjalani hukuman). Saat digeledah dikantong celana diduga tersangka, ditemukan uang palsu pecahan Rp 100 ribu dengan total Rp 3 juta. Kemudian dilakukan pengembangan lagi, dan berhasil menangkap Muhammad Pamuji (telah menjalani hukuman) beserta barang bukti upal sebanyak Rp 9,3 juta.

"Kedua diduga pelaku mendapatkan upal dari Aan, namun saat dilakukan penggerebakan, diduga pelaku berhasil melarikan diri ke Bengkulu selama dua tahun. Pada Selasa (2/1/2018) sekitar pukul 16.30 WIB, diduga pelaku berhasil diamankan di rumahnya," ungkap AKP Ali Rojikin saat press release, kemarin.

Diduga pelaku juga diketahui merupakan residivis uang ,palsu dan pernah menjalani hukuman dalam kasus yang sama pada tahun 2012 dengan hukuman selama 11 bulan.

"Pelaku dapat dijerat dengan pasal 36 pasal 1, 2 dan 3 Undang-undang No 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 50 miliar. Pada 2 tahun lalu, diduga kedua pelaku sudah mencetak uang dan didistribusikan dengan pergantian uang kurang lebih Rp 12 juta yang sudah diamankan," jelasnya.

Pengakuan pelaku, upal dicetak dengan menggunakan printer dan kertas HVS. Dalam prosesnya, upal tidak langsung jadi, melainkan harus melalui proses pencocokan warna. "Jika sudah pas dan cocok, uang yang sudah dicetak menggunakan printer, tinggal dipotong-potong dengan pisau kater," tandasnya. (app/rel)

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close