Dianggap Hina Kerajaan, Wanita Tunanetra di Thailand Dipenjara 1,5 Tahun


Lia Cikita 2018-01-04 20:06:17 Internasional 83 kali

Istana Kerajaan Thailand. (Foto: Istimewa)

Bangkok, Kabar28.com,  - Seorang wanita penyandang tunanetra di Thailand harus menghadapi hukuman penjara selama setahun hingga 1,5 tahun. Ia harus menghadapi hukuman tersebut karena dianggap telah melanggar undang-undang penghinaan kerajaan negara tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh pengacaranya dan seorang pejabat pengadilan.

Undang-Undang Lese-Majeste di Thailand memungkinkan para penghina keluarga kerajaan diberi sanksi tegas, bahkan dianggap hukum terberat di dunia. Mereka yang dinilai melanggar Lese Majeste bisa divonis hingga 15 tahun kurungan penjara.

Nurhayati Masoh (23) dinyatakan bersalah setelah ia mem-posting sebuah artikel di akun Facebook-nya. Ia mem-posting sebuah artikel yang ditulis oleh Giles Ungpakorn, seorang akademisi Thailand-Inggris dan seseorang yang aktif menentang kerajaan. Ungpakom melarikan diri dari Thailand setelah dia didakwa akibat melanggar Lese Majeste pada 2009.

"Nurhayati mengaku perbuatannya telah mem-posting artikel tersebut. Tapi dia tidak menyadari akan menyebabkan hukuman yang sangat berat," ungkap pengacara Nurhayati, Kaosar Aleemama, dilansir dari Reuters, Kamis (4/1/2018).

Nurhayati menggunakan aplikasi komputer yang membantu tunanetra untuk menggunakan media sosial. Ia ditangkap polisi Thailand pada November 2017 dan sempat dijatuhi hukuman tiga tahun penjara oleh pengadilan di provinsi selatan Yala.

"Kasus yang dilakukan olehnya (Nurhayati) diajukan pada 28 November 2017 dan sejak saat itu ia ditahan," ungkap seorang pejabat di Pengadilan Provinsi Yala, yang menolak disebutkan namanya. Pejabat tersebut juga menyatakan bahwa pengakuan Nurhayati menyebabkan hukumannya dikurangi separuhnya.

Militer Thailand, yang menguasai pemerintahan dalam kudeta Mei 2014, telah menggenjot sensor online, terutama dugaan penghinaan terhadap sistem monarki di Negeri Gajah Putih.

Sejak kudeta tersebut, setidaknya 94 orang telah diadili. Sebanyak 43 orang telah dijatuhi hukuman, kata kelompok iLaw yang memantau kasus penghinaan kerajaan. Sebanyak 92% dari mereka mengaku bersalah dengan harapan menerima hukuman penjara yang lebih pendek.

"Mungkin ada lebih banyak kasus yang tidak kita ketahui," ungkap Yingcheep Atchanont, manajer iLaw.

Undang-undang yang melindungi anggota keluarga kerajaan dari penghinaan membatasi semua pemberitaan terkait kerajaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyatakan keprihatinannya atas apa yang mereka sebut sebagai situasi memburuknya kebebasan berpendapat di Thailand, termasuk hukuman keras bagi mereka yang dihukum karena melanggar hukum Lese Majeste, yang dikenal dengan Pasal 112.

Sumber : okezone.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close