ABG Ini Warga Pertama Palestina yang Dibunuh Israel pada 2018


Mutiara Safitri 2018-01-04 10:21:00 Internasional 38 kali

Ilustrasi (Foto : istimewa)

Ramallah, Kabar28.com,-  Pasukan Israel menembak mati seorang remaja Palestina berusia 17 tahun di pinggiran utara Kota Ramallah, Tepi Barat. Anak baru gede (ABG) itu sekaligus jadi warga pertama Palestina yang dibunuh pasukan Israel pada tahun 2018.

Kementerian Kesehatan Palestina mengidentifikasi korban bernama Musab Firas al-Tamimi asal Desa Deir Nitham. Korban ditembak mati di desa tersebut pada hari Rabu.\

”Dia meninggal tak lama setelah pasukan pendudukan menembakkan peluru ke lehernya,” kata Maria Aqraa, seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina.

”Dia dipindahkan ke rumah sakit di Ramallah dan dia meninggal beberapa menit kemudian,” ujar Aqraa, yang dilansir Kamis (4/1/2018). Aqraa mengatakan, Musab ditembak saat terjadi konfrontasi dengan tentara Israel.

Menurut laporan Times of Israel, tentara Israel mengklaim bahwa Musab terlihat memegang pistol. Namun, klaim itu tidak bisa dikonfirmasi. Militer Israel mengaku sedang menyelidiki penyebab pembunuhan terhadap Musab.

Korban yang masih remaja itu diketahui merupakan anggota keluarga Tamimi yang tinggal di Desa Nabi Saleh yang berdekatan dengan Desa Deir Nitham. Keluarga Tamimi terkenal setelah salah satu anggotanya, Ahed Tamimi, menampar tentara Israel yang berujung pada penangkapannya.

Ahed Tamimi, gadis aktivis Palestina yang sejak kecil sudah keluar masuk penjara Israel, telah dikenai 12 dakwaan sekaligus oleh pengadilan di negara Yahudi tersebut.

Ayah Musab, Firas, mengatakan bahwa tentara Israel telah memprovokasi penduduk kedua desa selama berbulan-bulan hingga sekarang.

Menurutnya, tentara Israel menggerebek Desa Deir Nitham sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat pada hari Rabu setelah anak laki-laki dari desa tersebut keluar untuk melawan pasukan pendudukan tersebut.

”Tentara pendudukan telah menyerang baik Deir Nitham dan Nabi Saleh siang dan malam. Mereka masuk, membuat amarah penduduk, menyerang rumah kami pada malam hari dan melemparkan bom-bom di jalan. Ini adalah kenyataan setiap hari,” kata Firas.

”Kami tidak bisa terus, terus dan terus menonton. Tidak ada yang mendengarkan kami, tidak ada yang merasakan sakit yang kami alami. Dunia hanya diam, menonton.”

Sumber : sindonews.com 

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close