Tak Didakwa Pasal Pembunuhan Berencana, Penusuk Pelajar di Bandung Menangis


Lia Cikita 2017-12-28 20:02:34 Nasional 136 kali

Kapolrestabes Bandung, kombes Pol Hendro Pandowo yang didampingi Kasatreskrim AKBP M Yoris Maulana tengah memperlihatkan barang bukti dalam ungkapan kasus penusukan seorang pelajar SMK Dirgantara di Kota Bandung.(Foto : istimewa)

Bandung, Kabar28.com - Fr (17) yang dalam berita sebelumnya disebut P, pemuda yang nekat membunuh sahabatnya sendiri, yakni siswa SMK Dirgantara Fahmi Amrizal (18) tidak dijerat pasal 340KUHPidana atau pembunuhan berencana, melainkan pasal 338 dan 351 ayat (3) dengan ancaman maksimal tujuh tahun penjara.

Usai tuntutan itu, Fr yang mengenakan kemeja putih dan peci hitam itu menangis saat memasuki sel ruang tunggu tahanan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bandung Gani Alamsyah mengatakan, mengingat terdakwa masih di bawah umur, sidang yang dipimpin Sri Mumpun ini berlangsung tertutup.

Meski begitu, sidang dilakukan secara maraton, mulai dari dakwaan hingga pemeriksaan terdakwa. Selanjutnya, sidang tersebut ditunda pekan depan dengan agenda tuntutan.

Dalam berkas dakwaan disebutkan, pada 7 Desember 2017, sekitar 21.00 WIB, terdakwa datang ke rumah korban dan mengajaknya mengikuti acara syukuran perpisahan sekolah.

Terdakwa dan korban lantas pergi dengan menggunakan motor teman terdakwa. Saat itu, korban mengendarai motor tersebut, sedang terdakwa dalam posisi membonceng. Setibanya di depan gerbang sekolah, terdakwa mengajak korban untuk mengisi ulang galon di Gang Paralon, Kelurahan Cigondewah, Kecamatan Bandung Kulon.

Namun saat diajak masuk ke gang, korban menolak. Saat itulah terdakwa menghabisi korban.

"Terdakwa lalu mencekik leher korban, dan menusukkan pisau yang sudah dibawanya ke dada sebelah kiri hingga tewas," kata Gani usai sidang dakwaan kasus pembunuhan siswa SMK Dirgantara Fahmi Amrizal, di Pengadilan Anak pada PN Kelas 1A Bandung, Bandung, Kamis (28/12/2017).

Terdakwa sempat panik saat melihat korban berlumuran darah, ia pun kemudian membasuh lumuran darah di tangannya, kemudian berlari ke belakang gang, terdakwa pun sempat mengobrol dengan tukang telepon seluler.

Saat kembali ke arah korban yang sedang terkapar, terdakwa melihat korban tengah dibopong warga sekitar. Terdakwa kemudian lari ke SPBU yang tak jauh dari lokasi.

"Namun terdakwa akhirnya bisa ditangkap oleh petugas kepolisian," ujarnya.

Akibat perbuatannya, terdakwa dijerat pasal 338KUHPidana tentang pembunuhan sebagaimana dakwaan primer, dan pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal.

Sementara Pasal pembunuhan berencana atau Pasal 340KUHPidana tidak diterapkan lantaran mengacu pada berkas yang dilimpahkan penyidik kepolisian.

"Ancamannya maksimal 15 tahun. Karena di bawah umur, setengahnya," ujar JPU.

Dihukum berat

Sementara itu, orangtua Fahmi Amrizal, Suparman (40) meminta terdakwa dihukum setimpal dan divonis seberat-beratnya untuk memberikan efek jera bagi pelaku dan juga menjadi contoh bagi orang lain untuk tak melakukan hal serupa meski pelaku masih di bawah umur.

"Kalau bisa setimpal dengan tindakan pelaku. Dihukum seberat-beratnya," katanya.

Perimintaan serupa disampaikan nenek koban, Neneng (60). Ia mengatakan, meski di bawah umur, namun pelaku tega dan sudah bisa merencanakan pembunuhan. Hal itu terbukti dari pisau yang disiapkan dan ajakan awal kepada korban sebelum melakukan pembunuhan.

"Anak di bawah umur sudah bisa merencanakan (pembunuhan). Ngajak ngeliwet heula (dulu), beli galon, di tengah jalan dibunuh," ujarnya.

"Kalau dibiarkan (hukum rendah). Efeknya bisa ke pemuda lain (di bawah umur). Mentang-mentang masih anak-anak dihukum rendah," tukasnya.

 

Sumber : Kompas.com

 

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close