Semenanjung Korea Memanas, Indonesia Harus Ambil Sikap Tegas


Lia Cikita 2017-12-19 19:15:25 Internasional 84 kali

UI dan Unhan bekerja sama menggelar seminar nasional terkait Semenanjung Korea (Foto: istimewa)

Depok, Kabar28.com, – Ketegangan di Semenanjung Korea tidak kunjung mereda. Sebab, Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) terus saling melempar kata-kata yang dikhawatirkan dapat memicu perang. Tak pelak, Indonesia harus menentukan sikap guna terciptanya perdamaian dunia. 

Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan), Laksamana Muda TNI Amarulla Octavian, pun berharap kedua negara memanas untuk bisa menurunkan tensi dan bisa menyelesaikan persoalan dengan dialog.

“Posisi Indonesia di satu sisi ingin menjaga hubungan baik dengan Korea Utara. Tapi ingat, kepentingan nasional Indonesia juga adalah menjaga perdamaian dunia. Karena jika sekarang ada masalah di Semenanjung Korea, skenario terburuk terjadi perang, maka Indonesia akan terkena dampaknya," ujar Laksamana Muda TNI Amarulla Octavian, usai seminar nasional bertajuk 'Diplomasi Pertahanan Republik Indonesia Menanggapi Krisis di Semenanjung Korea' di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (19/12/2017). 

"Berarti sikap kita sekarang mengajak seluruh negara ini mau berdialog, menurunkan tensi, meredakan eskalasi, itu tujuan kita sekarang. Korea Utara kita ajak bicara untuk menunjukan itikad baik. Tapi kita juga bersiap untuk segala kemungkinan terburuk,” jelas Amrulla. 

Ia menambahkan, seminar tersebut diselenggarakan dalam rangka menjawab perhatian isu internasional terkini serta memberikan pemaparan dan diskusi singkat terkait posisi Indonesia dalam menghadapi situasi-situasi terkini di Asia Pasifik.

“UI dan Unhan merasa perlu mengangkat permasalahan ini dalam sebuah seminar supaya mendapatkan masukan apa yang seharusnya dilakukan oleh Indonesia. Seperti tadi, ada usulan untuk mengirimkan utusan khusus atau delegasi khusus dari TNI. Hubungan baik antarmiliter menjadi peluang melaksanakan kerjasama. Kalau nanti delegasi TNI diizinkan memasuki Korea Utara dan melihat fasilitas di sana, bisa menjawab keraguan semua apakah memang Korea Utara punya nuklir? Atau sekedar ditunjukan kepada AS? Pertanyaan ini harus dijawab. Kita ingin Korea Utara mau berdialog lagi,” kata mantan ajudan Presiden RI pada masa Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Ditambahkan Amrulla, konflik ini terjadi lantaran komunikasi yang sudah tidak berjalan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara. “Saat ini forum kerjasama antar mereka berhenti sejak 2009. Macet. Jadi tidak ada komunikasi. Dalam hubungan internasional putusnya komunikasi itu bahaya,” tandasnya.

Suumbe : okezone.com

Bagikan Berita/Artikel ini :

Berita Terkait


Berita Terbaru


close