HD Tampilkan Inovasi Pindang Patin di IGA 2020

JAKARTA, Kabar28.com,- Potensi Sumber Daya Alam (SDA) di Provinsi Sumsel begitu luar biasa, banyak jenis komoditas yang sangat potensial menjadi Produk Unggulan Sumsel melalui sentuhan Inovasi Teknologi untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing komoditas serta menghasilkan produk-produk baru berdaya saing.

Salah satu contoh penerapan Inovasi Daerah yaitu Inovasi Teknologi Pengalengan Pindang Patin untuk meningkatkan daya saing produk IKM yang disinergikan dengan Inovasi Pelayanan Publik yaitu Inovasi Kemitraan Academia, Business, Government (ABG).

Gubernur Sumsel Herman Deru menyebut, Sumsel penghasil ikan patin yang sangat besar, lebih dari 137 ribu ton per tahun. Olahan ikan patin yang populer di Palembang adalah Pindang Patin.

"Makanan ini sangat digemari di seluruh Indonesia, pada umumnya tamu-tamu yang datang ke Palembang membawa oleh-oleh pindang patin ini, namun menurutnya dalam kemasan yang kurang layak karena masih diproduksi secara tradisional, sehingga tidak tahan lama dan menurunkan kualitas makanan tersebut," katanya dalam presentasi penilaian Innovative Goverment Award (IGA) secara virtual, di Jakarta, Rabu (4/11/2020).

Permasalahan tersebut, lanjut HD dapat diatasi melalui Inovasi Teknologi Pengalengan Pindang Patin, sehingga tahan hingga 1 tahun dengan kualitas sesuai standar BPOM RI. Namun untuk memproduksi pindang patin dalam kaleng memerlukan investasi mesin dan peralatan lainnya yang cukup besar, bernilai milyaran rupiah.

"Oleh sebab itu, IKM penjual pindang patin tidak mampu untuk mengeluarkan biaya investasi yang bermilyar untuk produksi dan pengalengan produknya. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah hadir meningkatkan Pelayanan Publik kepada masyarakat dan IKM agar produknya berdaya saing atau bahkan menumbuhkan IKM baru, dengan Inovasi Kemitraan Academia, Business, Government (ABG)," bebernya.

Dari contoh penerapan 2 Inovasi tadi, yaitu Inovasi Pengalengan Pindang Patin dan Inovasi Kemitraan ABG, mampu memberikan manfaat nyata dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian Sumsel.

"Berdasarkan data yang ada, Rumah Makan atau IKM yang memproduksi Pindang Patin di Kota Palembang saja berjumlah 71. Bila masing-masing IKM tersebut memproduksi Pindang Patin dalam kaleng dengan menjual 10.000 kaleng perbulan maka omset penjualan sebesar 3 Milyar per IKM per tahun, sehingga diperkirakan omset penjualan dari 71 IKM tersebut sebesar 213 Milyar per tahun," tandasnya.

Pada masa pandemi Covid19 ini, HD mengatakan, seluruh dunia terganggu perekonomiannya. Untuk itu sangat diperlukan inovasi-inovasi untuk menggerakkan ekonomi namun tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Sejak awal pandemi, kami menyeimbangkan ke dua hal tersebut. Berbagai program terobosan dan inovasi kami tingkatkan untuk IKM dan UMKM karena pelaku usaha IKM dan UMKM ini jumlah besar dan tidak padat modal sehingga harus ditopang pemerintah daerah," terangnya.

Kondisi ekonomi Sumsel relatif aman. Pertumbuhan ekonomi pada kwartal II masa Pandemi ini sebesar minus 1,37%. Kondisi ini masih jauh lebih baik bila dibandingkan beberapa provinsi lain di Indonesia serta masih lebih baik dari Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang minus 5,32%.

"Sumsel masuk 7 besar dari 34 provinsi di Indonesia, tapi kalau untuk poin kita sudah tertinggi tapi belum tau hasil presentasinya menjadikan kita tetap ranking satu atau tidak," tutur HD.

Namun di balik itu, lanjut HD, dalam penerapan Inovasi Daerah Sumsel berdampak kepada peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan, peningkatan kualitas pelayanan publik dan peningkatan produktifitas dan daya saing produk.

"Terkait hal tersebut, dua tahun terakhir mulai tahun 2019 sampai dengan bulan Oktober 2020, alhamdulillah Pemprov Sumsel telah menerima sejumlah 92 penghargaan," tutupnya.

Adapun Tim penilai dari (IGA) tahun 2020 diantaranya dari Kemendagri, Kemenkeu, Kemen PAN RB, Kemenristek/BRIN, Bappenas, LAN RI, LIPI Universitas Indonesia, Kadin, Media dan UCLG-ASPAC. (ril)

Baca Lainnya

close